[Jakarta] Sekitar pukul 10:30 saya menuju ke taxi yang sudah menunggu sejak 15 menit lalu, ternyata didalam supir taxi sedang tidur didalam mobil, kemudian setelah mengetuk pintu dan terbangunlah si sopir, terlihat sopir itu masih lusuh dan mata memerah dari rona wajahnya, kemudian saya mengambil tas dan masuk dan berangkatlah kami menuju ke bandara Juanda Surabaya. Setelah 10 menit sejak kami berangkat saya terus memperhatikan wajah sang sopir lewat cermin yang tergantung pada plafon mobil, saya terus memperhatikan bagaimana ‘matanya’ ternyata dugaan saya tidak meleset,
sopir ini masih mengantuk, “Selamat dah” pikir saya, ini ada kejadian yang kedua kali saya pergi ke bandara dengan naik taxi burung biru dimana sopir selalu mengantuk, benar saja saat melaju dengan kencang pada jalan tol yang lurus dan sepi, mata sopir mulai meredup hingga tersisa 5 watt!!, biar sopir melek terus terpaksa saya pura-pura batuk dan berdehem sekedar memberi “tanda” sambil dalam hati berteriak “aku masih ingin hidup 1000 tahun lagi”……
Tiga puluh menit kemudian akhirnya tiba di terminal keberangkatan, syukur..selamat, walau didalam taxi saya terus gelisah. Setelah cek in dan masuk ke ruang tunggu ternyata pesawat Lion Air JT 577 mengalami delay 2 jam! Seharusnya onboard jam 13.30 molor menjadi 15:00! Ternyata seluruh penerbangan Lion Air yang menuju Jakarta delay semua, tidak ada penjelasan apapun dari front desk saat check in, hanya terdengar kabar bahwa delay terjadi karena alasan operasional.
16.34 wib akhirnya mendarat di Jakarta, dengan ditunggui oleh pak presiden Tan Agus dan Demmy, Padahal jam 18:00 kami sudah harus tiba di Jitec ternyata jalan menuju keluar bandara lambat merayap di karenakan pesawat yang landing datang secara beruntun, di perjalanan kami mulai khawatir melihat kemacetan ini akhirnya setelah keluar dari arena bandara lalu lintas lacar dan tiba jualah di Jitec pada 17:45. mobil langsung menuju parkir di lantai 8 dan kami masuk melalui pintu belakang panggung kemudian menuju ke front desk, dan mulai tampaklah banyak panitia dengan seragam kaos hitam berlogo Widyadasa.
Pemandangan di front desk ini dipenuhi dengan stan penjual makanan, minuman, bursa aksesoris buddhis, sekolah buddhis, universitas buddhis , toko roti hingga agent properti, tampak juga sebuah dinding dengan hiasan dedaunan dan sepasang angsa emas diatas sebuah kolam, ternyata itu adalah foto corner!
Tepat pukul 18:00 Pintu masuk mulai dibuka, antrian tertib penonton mulai baris, terdapat tiga jalur yang disediakan untuk akses masuk sesuai dengan jenis kursinya yaitu, silver, gold, platinum. Semua pengunjung mendapat sebuah tas dengan logo Golden Swan dan beberapa buku didalamnya.
Pada 18:30 pertunjukan dimulai, acara di buka dengan menampilakan seoarang gadis cilik bernyanyi bersuara merdu kemudian dilanjukan dengan tiga penyanyi dewasa dimana musik disajikan secara langsung dari belakang panggung selanjutnya kata sambutan dari Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera, beliau menceritakan bahwa cerita ini sesungguhnya dapat dijadikan panutan bagaimana seorang pemimpin bertindak terhadap rakyatnya, dan setelah itu lampu didalam gedung mulai gelap maka dimulailah pertunjukan.
Babak I:
Candi Borobudur yang megah, dibangun oleh masyarakat yang sejahtera, telah mewartakan Dhamma selama lebih dari 1000 tahun. Di Candi inilah terukir Kisah Mahahamsa Jataka
Babak II:
90.000 Angsa berbulu Emas hidup dalam kerukunan dan kemakmuran, dipimpin Raja Angsa Emas bernama Dhatarattha dengan patihnya yang bernama Sumukha.
Babak III:
Ratu Khema bermimpi bertemu dengan kawanan Angsa Emas dan mendengar kata-kata bijak dari Raja Angsa Emas, Dhatarattha. Terkesan pada kebijaksanaan Dhatarattha, Ratu Khema ingin menangkapnya, namun ia terjaga dari tidurnya.
Babak IV:
Ratu Khema meminta Raja Samyama untuk menangkap Dhatarattha. Raja mengumpulkan para pemburu untuk mencari pemburu yang paling trampil untuk menangkap Angsa Emas. Pemburu yang cerdik mengalahkan para pemburu lain yang hanya mengandalkan tenaga. Khemaka, pemburu trampil terpilih.
Babak V:
Khemaka membangun danau yang indah, untuk memikat para Angsa Emas. Khemaka memasang perangkap di danau buatan tersebut.
Babak VI:
Angsa-Angsa Emas tertarik untuk datang ke danau yang indah itu, namun Dhatarattha mencegah karena khawatir akan keselamatan para angsa. Tetapi karena semua Angsa mendesak, maka Raja Angsa Emas maju terlebih dahulu untuk memastikan apakah danau itu aman.
Ternyata Raja Angsa Emas, Dhatarattha, masuk ke perangkap si pemburu. Dhatarattha menyuruh semua Angsa Emas agar terbang menjauh, namun Sumukha tetap bertahan, membela Dhatarattha.
Babak VII:
Karena tidak mau meninggalkan Dhatarattha, maka Sumukha pun ditangkap bersama Dhatarattha dan dibawa ke hadapan Raja Samyama dan Ratu Khema. Di istana inilah Raja Angsa Emas, Dhatarattha, membabarkan Dhamma dengan bijaknya. Raja Samyama dan Ratu Khema sangat berbahagia karena memperoleh kebijaksanaan. Mereka kemudian membebaskan Dhatarattha dan Sumukha.
Raja Angsa Emas, Dhatarattha, kelak terlahir sebagai Bodhisattva Siddharta
Patih Angsa Emas, Sumukha, kelak terlahir sebagai Bhikkhu Ananda
Raja Kerajaan Kasi, Samyama, kelak terlahir sebagai Bhikkhu Sariputta
Ratu Kerajaan Kasi, Khema, kelak terlahir sebagai Bhikkhuni Khema
Pertujukan berakhir pada 20:30 dengan kilauan kembang api serta gemuruh tepuk tangan dari 2500 penonton, wah pokoknya seru abiz!!, secara garis besar saya kagum dengan pertunjukan ini karena tempat duduk yang nyaman, panggung yang luas, tata suara dan lampu yang bagus membuat menonton menjadi nyaman. Kami tunggu show berikutnya dari karya Widyadasa.‘
|