KUNJUNGAN KARUNA MITTA KE PAMENGPEUK – 22-23 September 2009 PDF Print E-mail
Written by Camellia Darmawan   
Friday, 02 October 2009 14:58
PAMENGPEUK
Seperti yang direncanakan sebelumnya, maka pada tanggal 22 September 2009, anggota Karuna Mitta disertai dengan YM Bhante Cittavaro (VJDJ) berangkat dari Jakarta ke Bandung dan tiba di Vihara Karuna Mukti Bandung pada sore harinya. Kami bertemu dengan ibu Liana (Pengurus MAGABUDHI & WANDANI) dan suaminya, Pak Otong. Tim Karuna Mitta dari Jakarta terdiri dari Romo Dr. Surya Widya beserta ibu Swan, penulis, Romo Budiman, Romo Sayuti, Suciarini, Miki dan Setiawan (wartawan). Sebagian dari kami tinggal di Vihara Karuna Mukti, dan sebagian lagi tinggal di rumah ibu Liana. Malam harinya ibu Liana dan pak Otong membawa kami untuk makan malam bersama.
Menurut keterangan dari ibu Liana, umat Bandung telah dua kali berkunjung ke Pangalengan ( no.3 di peta) untuk menyampaikan sumbangan sembako, selimut dan membuka dapur umum di lokasi selama 4 hari bekerjasama dengan sebuah organisasi Buddhis dari Surabaya.

Keesokan paginya beberapa umat Buddha dan pengurus MAGABUDHI datang kerumah ibu Liana untuk berangkat ber-sama2 ke Pamengpeuk (no. 2 di peta), kota di pantai selatan Jawa Barat. Pagi itu YM Bhante Subalaratano juga tiba dari Bogor beserta beberapa orang umat. Kami berangkat jam 6 pagi ke Garut dengan 4 mobil dan 1 mobil box yang berisi 200 kantong sembako ( 3 kilo beras, gula, minyak dan supermie) yang telah disiapkan oleh ibu Liana dari dana Karuna Mitta sejumlah hampir 10juta Rupiah.

Ditengah jalan mobil box mengalami kerusakan, lalu kami memindahkan semua kantong2 sembako ke 4 mobil kami. Ibu Liana kemudian meminta bantuan sebuah mobil box dari umat Buddha Garut untuk standby di Cetiya di Garut.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan kami tiba di Cetiya di Garut, di mana telah menunggu Ketua PC MAGABDUHI Garut, Romo Ahui, beserta pengurus WANDANI dan umat Buddha lainnya. Dengan mengendarai 6 mobil dan 1 mobil box, rombongan kami yang berjumlah 40 orang berangkat menuju Pamengpeuk, melalui jalan yang sangat ber-liku2. Ditengah perjalanan kami berhenti untuk makan siang berupa nasi kotak yang telah disediakan oleh ibu Tjing Siang, seorang umat Buddha dari Garut.

Kami melanjutkan perjalanan ke Pamengpeuk dan menuju desa Cikelet, dimana kami diterima di Kantor Polisi Sektor Cikelet, berkat bantuan umat Buddha Garut, pak Alen, yang kenal dengan bapak Kapolsek (pak Richard Latue). Beliau memberikan penjelasan kepada kami mengenai gempa bumi dengan episentrum di Samudra Indonesia yang berjarak hanya 5 kilometer dari pantai Cikelet, serta dampak disekitarnya.

Kemudian beliau memandu kami ke tengah desa Cikelet, dimana banyak rumah-rumah yang hancur dan banyak juga yang masih berdiri tetapi mengalami retak yang mendalam, sehingga penduduk tidak lagi berdiam dirumah mereka karena mudah roboh.

Saat ini banyak tenda-tenda didirikan dipekarangan rumah mereka. Para pengungsi sebanyak 7.766 orang juga ditampung di 21 titik pengungsian yang berupa tenda-tenda besar. Kami di informasikan bahwa pemerintah berencana untuk membantu membangun kembali rumah-rumah penduduk yang terkena musibah gempa tersebut. Dalam kesempatan tersebut kami menyerahkan sebagian dari sembako dan sarung beserta pakaian kepada Wakil Kepala Desa setempat. Sebagian lagi kami serahkan di Kantor Polisi Sektor untuk dibawa ke desa yang sulit dijangkau.

Setelah selesai, kami kembali ke masing-masing kota. Rombongan yang kembali ke Jakarta menempuh perjalanan selama 9 jam.
Ditulis oleh : Camellia Darmawan 28 September 2009

Berita lengkap dapat di download disini.
Last Updated on Friday, 02 October 2009 15:04