
Keesokan paginya (Sabtu, 1 Novmber 2008) di Vihara Dhammajaya, Bhante melakukan pindapatta. Setelah makan pagi, Bhante bertolak dari Surabaya dan melakukan perjalanan menuju Dhamma TV (dikepalai Bhikkhu Dhammavicayo Mahathera, Malang) dan Dhammadipa Arama (tempat meditasi, dikepalai Bhikkhu Khantidharo Mahathera, Batu). Bhante juga berkesempatan makan siang di Dhammadipa Arama. Setelah itu barulah Bhante menuju Surabaya untuk mempersiapkan dhammatalk.
Pada malam harinya di Vihara Dhammajaya Bhante memberikan Dhammatalk dengan topik “Chinese Traditions and Buddhism.” Dalam Dhammatalk ini Bhante menyampaikan perbedaan tradisi Tionghoa dan Buddhisme dengan memberikan contoh-contoh. Hal-hal yang dibahas antara lain mengenai kematian (yang dalam tradisi Tionghoa tabu untuk dibicarakan) dan pelimpahan jasa, alam dewa, kamma, vegetarian dan lain-lain. Pada intinya Bhikkhu Dhammavuddho menekankan pada pentingnya dana (kerelaan), sila (kemoralan), membaca sutta (kotbah Sang Buddha) dan samadhi (bermeditasi) karena akan membawa manfaat yang sangat besar. Dengan melakukan keempat hal ini berarti kita menjalankan ajaran Buddha. Ajaran Buddha merupakan ajaran yang rasional dan masuk akal. Buddha mengatakan bahwa kita tidak boleh begitu saja percaya pada perkataan Buddha sendiri maupun para bhikkhu. Buddha menganjurkan kepada kita untuk menyelidiki terlebih dahulu perkataan tersebut. Jika hal tersebut membawa pada kebebasan dan kebajikan bukan pada kejahatan, maka hal itu patut dikembangkan. Bhikkhu Dhammavuddho juga sering menekankan pentingnya sutta karena Buddha sendiri mengatakan bahwa suttalah yang akan menjadi guru kita setelah Buddha maha parinibbana.

Keesokan paginya (Minggu, 2 November 2008) juga dilakukan pindapatta di tempat yang sama yaitu Vihara Dhammajaya. Setelah makan pagi, selanjutnya Bhante menuju Vihara Eka Dharma Loka untuk memberikan dhammadesana ”God or Ghost, Do You Believe.” Pada kesempatan ini, ceramah yang disampaikan Bhante juga hampir sama dengan dhammatalk pada 1 November 2008.
Setelah makan siang di Vihara Eka Dharma Loka, Bhante melakukan perjalanan menuju Sanggar Agung (komplek Porseni 3 Nasional PATRIA, 1-3 Mei 2008). Setelah melihat-lihat area kelenteng Sanggar Agung yang berada di tepi pantai, selanjutnya Bhante berdiskusi dengan peserta meditasi. Meditasi Vipassana yang dipimpin saudara Yudha Wibisono (mantan Ketua DPD PATRIA Jawa Timur 1995) ini dilakukan secara rutin setiap hari Minggu. Diskusi yang semula bermula dari topik ringan, lama-kelamaan menjadi semakin serius karena Bhante memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya meditasi samatha (penggunaan jhana untuk mencapai Anagami dan Arahat), pentingnya mendengarkan Dhamma, hubungan nana dengan tingkat kesucian, pemahaman sotapana yang dapat dicapai tanpa memerlukan konsentrai yang sempurna, faktor-faktor untuk menjadi sotapana dana lain-lain. Pada intinya, apa yang dibahas pada kesempatan ini banyak mengulas buku yang ditulis oleh Bhante sendiri yang berjudul ”Liberation : Relevance of Sutta-Vinaya.”
Setelah diskusi selesai, Bhante menuju Vihara Buddha Kirti (vihara Theravada pertama di Surabaya). Pda kesempatan ini, Ibu Pandita Khemawati menjelaskan sejarah vihara dengan menunjukkan foto-foto kegiatan zaman dahulu. Bhante pun tampak antusias menyimak penjelasan yang disampaikan beliau. Bincang-bincang ini berjalan dengan hangat dan didampingi oleh pemuda-pemudi PATRIA. Setelah itu Bhante diajak berkeliling untuk melihat kondisi vihara.

Kunjungan pun berlanjut menuju Vihara Dhammadipa dimana pada malam harinya Bhante akan memberikan ceramah dengan topik ”The Buddha’s Views on Meat Eating,” salah satu topik yang pernah diulas pada buku yang ditulis oleh Bhante sendiri. Acara ini disponsori oleh tim ”Indahnya Dhamma” (salah satu divisi DPC PATRIA Surabaya yang berhubungan dengan diskusi Dhamma secara intensif). Dalam ceramahnya bhante menjelaskan mengapa bhikkhu pada zaman Sang Buddha non vegetarian, pemahaman daging yang dilarang untuk dimakan menurut Buddha, berat kamma pembunuhan binatang dan lain-lain. Diskusi ini berjalan dengan sangat baik dan banyaknya pertanyaan dari peserta membuat panitia harus memilih pertanyaan yang akan dibahas oleh Bhante.
Keesokan harinya (Senin, 3 November 2008) setelah bermalam di Vihara Dhammadipa, Bhante berpindapatta di vihara yang sama. Setelah makan pagi, Bhante menuju markas PATRIA Jatim dan Surabaya (lebih terkenal dengan sebutan kos Buddhis/AJ3 karena berada di jalan Tenggilis Mejoyo blok AJ3). Bhante pun berkesempatan melihat sejarah PATRIA Surabaya yang telah terdokumentasi dalam foto-foto kegiatan. Dalam kesempatan ini Bhante juga berdiskusi dengan anak-anak muda dan menjawab pertanyaan yang diajukan dengan antusias.
Setelah diskusi selesai, Bhante bertolak menuju Vihara Berkah Utama (vihara termuda di Surabaya). Di vihara ini, Bhante berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan Bhante Viriyadharo, Tejapunno dan.. Bhante Saccadhammo pun berkesempatan makan siang di sini sebelum pulang menuju Malaysia.
Demikianlah perjalanan Bhante selama di Surabaya dan Malang. Sungguh merupakan kesempatan yang langka untuk mengadakan diskusi Dhamma 3 hari berturut-turut. Kami segenap jajaran pengurus DPD PATRIA Jawa Timur memberikan anumodana yang sebesar-besarnya kepada Bhikkhu Dhammavuddho Mahathera yang telah berkenan memberikan ceramah dan diskusi tanpa mengenal lelah kepada umat Buddha di Surabaya. Tidak lupa juga kami juga mengucapkan anumodana khususnya kepada saudara Nyana Suriya Johnny Anggara (Ketua DPD PATRIA Sumatra Utara) atas saran yang sangat penting mengenai isi buku ”Only We Can Help Ourselves” serta saudari Yuliana Lie Pannasiri (sekretaris DPD PATRIA Sumatra Utara) yang bertindak sebagai transletter semua ceramah Bhante (saudari Yuliana telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik sekali, suaranya sangat jelas dan tidak tampak kelelahan di wajahnya walaupun seharian bertindak sebagai transletter, salut). Secara umum kami juga mengucapkan anumodana juga kepada DPD PATRIA Sumatra Utara atas semua ide dan masukannya. Dan tak lupa kami juga mengucapkan anumodana atas kerja sama yang baik kepada 5 vihara di Surabaya (Dhammajaya, Eka Dharma Loka, Dhammadipa, Buddha Kirti dan Berkah Utama), Sanggar Agung Surabaya serta ke Malang mengunjungi Dhamma TV dan Dhammadipa Arama.
Ucapan anumodana yang terakhir kami tujukan kepada semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu yang telah membantu menyukseskan acara ini.
Semoga dengan kebajikan yang telah dilakukan, membuat semua makhluk hidup berbahagia. Sabbe satta bhavantu sukhitatta. Sadhu, sadhu, sadhu.