 [Medan] Dalam rangka memperingati Hari Asalha, DPD Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA) – Sumut didukung PD Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI) Sumut serta Vihara Mahasampatti (9/7) kembali menjalankan ritual tahunan dengan menyelenggarakan Dhammatalk dalam dialek Hokkian untuk kelima kalinya. Ini sesuai dengan misi Pemuda Theravada Indonesia yaitu meningkatkan pengetahuan (pendalaman) Buddha Dhamma dan mengembangkan sarana informasi dan publikasi pandangan benar tentang Buddha Dhamma dalam masyarakat.
Topik Hokkian Dhammatalk kali ini adalah Bakti pada Orang Tua, dibawakan Y.M. Bhikkhu Dhammavuddho Mahathera yang merupakan Kepala Vihara Buddha Gotama, Temoh, Perak, Malaysia dan dimoderasi oleh P.My. Rudi Hardjon Dhammarajadasa, S.H., S.Ag.. 
Bhikkhu Dhammavuddho menceritakan kembali perjuangan orang tua dalam mendidik dan merawat anak dari sejak di kandungan hingga dewasa. Pada saat hamil, seorang ibu harus menjaga segala perilakunya agar tidak membahakan bayi di dalam kandungan. Di dalam kandungan, semua gizi yang dimasukkan oleh ibu melalui makanan diserap oleh bayi dengan harapan bayi berkembang baik. Selama 9 bulan ibu juga tidak leluasa, membawa beban yang tidak ringan setiap harinya. Perjuangan masih belum berakhir, pada saat melahirkan, seorang ibu akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Namun semuanya seolah-olah terobati saat melihat kondisi bayi dalam keadaan sehat. Begitu juga dengan ayah yang selalu mencari nafkah demi memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga. Orang tua bekerja sama dalam mendidik dan merawat anak hingga anak tersebut dewasa. Pengorbanan yang telah mereka berikan sangat besar. Saat kecil, anak-anak masih belum bisa melakukan apa-apa. Saat mereka sakit, jika bukan orang tua yang menjaga dan merawat, mungkin anak-anak tidak akan bisa bertahan sampai dewasa. Oleh karena itu, sangat sulit untuk membalas budi kedua orang tua.
Buddha bersabda, jika kita memikul ayah dan ibu masing-masing di bahu kanan dan kiri, merawat mereka, menjaga mereka selama 100 tahun, atau sampai mereka meninggal, hal tersebut masih belum cukup untuk membalas budi orang tua. Cara kita membalas budi mereka adalah dengan memberitahukan 4: memperkenalkan Dhamma (kebenaran) kepada mereka, mengajarkan mereka pentingnya berdana, mengarahkan mereka untuk menjalankan sila (aturan kemoralan), dan menumbuhkan kebijaksanaan orang tua dengan cara mendengarkan Dhamma. Dengan melakukan keempat hal tersebut, maka setelah meninggal, orang tua dapat terlahir di alam bahagia atau paling tidak terlahir kembali di alam manusia; sehingga mereka tidak terjerumus ke alam menderita.
Sebagai penutup, Bhante Dhammavuddho mengingatkan agar para umat sering melakukan pattidana kepada leluhur/sanak keluarga yang terlahir di alam menderita. Caranya adalah dengan bertekad dan memberitahukan mereka saat kita hendak melakukan dana/perbuatan baik. Dengan demikian, mereka mengetahui dan bergembira. Hal ini juga merupakan wujud bakti kita kepada orang tua yang telah meninggal.
|