.jpg) [Surabaya] Kegiatan Indahnya Dhamma ke-3 pada hari Minggu tanggal 12 Desember 2010, dibawakan oleh Upasaka Suriyano Suryo Hariono dengan tema ‘Bencana Alam, Apakah Merupakan Hukuman, Peringatan, ataukah Fenomena Alam?’. Acara ini dimulai pukul 11.00 WIB yang bertempatkan di Ruang Dhammasala, Vihara Buddha Kirti dengan jumlah 28 orang peserta. Acara dibuka dengan Namakara Patha dan perkenalan singkat oleh pembicara dengan para peserta.
Sebelum memulai sesi materi, peserta mengerjakan pre-test terlebih dahulu. Setelah itu, dibahas mengenai pengertian Fenomena secara umum. Fenomena berasal dari bahasa Yunani dengan kata ‘Phainomenon’ yang artinya ‘apa yang tampak/terlihat’. Fenomena disini disamakan dengan Tilakkhana yaitu 3 corak kehidupan (Anicca, Dukkha, Anatta).
.jpg) Bencana Alam bisa terjadi oleh karena proses alam, namun bisa juga terjadi oleh karena campur tangan manusia. Dalam pandangan Buddhis, bencana alam merupakan fenomena/proses alam. Contoh: badai La Nina terjadi akibat pergeseran kerak bumi.
Dalam hal ini, bencana alam yang terjadi oleh karena campur tangan manusia dihubungkan dengan Hukum Kamma/Hukum Perbuatan. Hukum Kamma disini terbagi lagi atas 2 sifat, yaitu absolut/mutlak dan relatif. Di dalam Buddhis, Tuhan yang dikenal bersifat ‘Impersonal’ sehingga Tuhan diartikan sebagai ‘Hukum Alam/Panca Niyama Dhamma’, dimana Hukum Kamma merupakan salah satu di antara 5 hukum alam, yaitu terdiri dari:
•Utu-Niyama (merupakan hukum alam yang mengatur cuaca, temperatur, musim, dan lain-lain)
•Bija-Niyama (merupakan hukum alam yang mengatur benih dan biji-bijian)
•Kamma-Niyama (merupakan hukum alam yang mengatur mengenai perbuatan dan hasilnya, perbuatan baik dan buruk menghasilkan akibat yang sesuai dengan perbuatannya)
•Citta-Niyama (merupakan hukum alam yang mengatur tentang pikiran)
•Dhamma-Niyama (merupakan hukum alam yang menjelaskan sesuatu di luar 4 hukum lainnya/yang tidak diatur oleh 4 hukum lainnya; contoh: mengapa dalam buah kelapa terdapat air kelapa, mengapa lombok warnanya merah, dan lain-lain) .jpg)
Kamma pun terbagi lagi, yaitu berdasarkan:
•jenis (kusala kamma/kamma baik dan akusala kamma/kamma buruk)
•fungsi (kamma yang melahirkan, kamma yang menopang, kamma yang mengurangi, dan kamma yang menghancurkan)
•waktu (kamma yang berbuah saat ini juga, kamma yang berbuah satu kali setelah kehidupan ini, kamma yang berbuah berkali-kali setelah kehidupan ini, dan kamma yang tidak berbuah)
•bobot (kamma super berat, kamma yang muncul sesaat sebelum ajal, kamma yang timbul karena kebiasaan, dan kamma super ringan)
•paticcasamuppada (hukum sebab-musabab yang saling bergantungan, meliputi utu-niyama, ahara/sari pati makanan, kamma-niyama/tidak di aborsi sudah karma baik, citta-niyama) 
Jadi, pertanyaan mengenai ‘adakah kamma kumulatif yang menyebabkan terjadinya bencana alam di suatu daerah?’. Jawabannya adalah ada kamma kumulatif/kamma berkelompok. Contoh: terjadinya tsunami di Mentawai yang menyebabkan ratusan orang meninggal merupakan kamma kumulatif dari orang-orang yang tinggal dan berada di daerah tersebut. .jpg)
Dan, pertanyaan mengenai ‘benarkah bencana alam saat ini merupakan tanda-tanda kiamat menurut sudut pandang Buddhis?’. Jawabannya adalah tidak benar, karena bencana alam yang terjadi hanyalah sebagai proses alam/fenomena alam. .jpg)
Setelah penjelasan dari narasumber, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diakhiri dengan post-test. Pre-test dan post-test disini berfungsi untuk mengetahui apakah para peserta memiliki peningkatan saat sebelum dan sesudah mengikuti sesi materi tersebut. Adapun peserta yang mendapat hadiah dari pre-test dan post-test dengan kriteria nilai pre-test paling tinggi dimenangkan oleh Sdr. Dicksen, dan kriteria nilai post-test paling tinggi dimenangkan oleh Sdri. Rina. Selamat kepada para pemenang. Acara Indahnya Dhamma ini berakhir pada pukul 14.00 WIB.
Demikian ringkasan Indahnya Dhamma ke-3 yang telah dilaksanakan tanggal 12 Desember 2010. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu …
|