Liburan anak desa

Liburan apa yang menarik buat kalian? Jalan-jalan ke Singapura? Berkunjung ke Itali? Bermain di Disneyland? Pergi ke Amsterdam? Berjemur di Bali?
Perjalanan saya lebih dari itu semua. Liburan saya tidak mewah. Hanya mengunjungi beberapa tempat dan vihara di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Tetapi kegembiraan dan pengalaman yang saya peroleh lebih dari kemewahan manapun yang dapat ditawarkan oleh liburan-liburan lainnya.


Sebelum perjalanan ini, saya tidak pernah merasa menjadi seorang ‘orang kota’. Saya bukan berasal dari kota metropolitan. Saya tinggal di salah satu pulau kecil di Indonesia, sehingga walaupun saya tidak merasa menjadi ‘orang desa’, tetap saja sering kali saya merasa ‘lebih terpencil’ saat saya berkumpul dengan teman-teman dari daerah lain. Makanya, saya merasa agak terkejut saat beberapa teman di Jawa menyebut saya sebagai orang kota. (Sebutan orang kota dan orang desa disini digunakan tanpa ada maksud untuk menyombongkan yang satu dan merendahkan lainnya, tetapi saya semata menggunakan istilah yang digunakan secara umum untuk menjelaskan asal tempat tinggal kami.)

Saya tidak pernah terlalu peduli dengan asal tempat seseorang. Kota atau desa, bagi saya sama saja. Yang membedakan seseorang bukanlah karena ia berasal dari kota ataupun desa, tetapi dari karakter yang dibawa. Dari perjalanan ini barulah saya mengerti tentang makna dari ‘orang kota’ dan ‘orang desa’ yang sesungguhnya. Saya juga memahami dan melihat sendiri bagaimana berbedanya kehidupan keduanya dari segala sisi, bagaimana ternyata terdapat perbedaan yang sangat mencolok baik dari kepribadian, pola pikir, hingga seni menjalani dan menghadapi kehidupan.

Sejak dulu saya selalu mengagumi masyarakat desa dan kehidupan yang dijalaninya. Ladang dan sawah hijau yang membentang bagi saya hanya terdapat di televisi, internet, atau di lukisan saja. Sehingga saat saya melihat petani membajak sawah secara langsung dengan mata kepala saya sendiri, saya merasakan suatu kebahagiaan dan keindahan yang sulit dijelaskan. Makanan yang saya makan, semuanya adalah produk dari berbagai obat-obatan dan pengawet. Paling segar didapatkan di pasar tradisional. Tetapi masyarakat di desa mengkonsumsi nasi dari beras hasil sawah mereka sendiri, buah-buahan yang dipetik dari kebun mereka sendiri. Sungguh segar dan nikmat. Saya tidak akan melupakan nikmatnya rasa tempe goreng, buah lontar, dan bahkan nasi putih yang saya makan disana.

Ada cerita menarik tentang nasi putih yang kami konsumsi di daerah Wonosobo. Kami mampir di rumah teman kami, Mas Kabul namanya. Disana kami disambut dengan berbagai makanan yang membuat air liur menetes – nasi putih, tempe tumis, kerupuk, dan ayam. Dan yang paling spesial disini adalah nasi putihnya. Nasi ini sungguh wangi dan gurih. Bahkan tanpa lauk pun nasi ini terasa sangat lezat. Usut punya usut, ternyata nasi nikmat ini tidak muncul begitu saja. Nasi tersebut merupakan hasil dari sawah mereka sendiri. Yang membuat hasil pertanian mereka berbeda adalah dari cara mereka merawat tanaman padi mereka. Setiap pagi dan sore, kakek dari Mas Kabul akan pergi ke sawah untuk berkeliling sambil membacakan paritta dan sutta tentang kasih sayang! Ternyata kebiasaan ini ampuh untuk mengusir hama dan menghasilkan nasi yang wanginya tiada banding.

Dimana lagi kita bisa menemukan yang seperti ini? Saya tidak mungkin bisa mengkonsumsi makanan seperti itu jika saya tidak berkunjung ke desa. Tetapi kebanyakan masyarakat desa tidak menyadari betapa ‘lebih’nya kehidupan mereka dibandingkan dengan kehidupan masyarakat di kota. Mereka sungguh amat ramah dan rendah hati. Mereka tidak ragu untuk berbagi apapun dengan kami, yang keluarga saja bukan.

Tidak ada sedikitpun perasaan tidak nyaman saat bersama mereka. Sekejap saja kami merasa menjadi bagian dari rumah mereka. Akan tetapi kerendahan hati yang terlalu besar dapat menyebabkan seseorang menjadi rendah diri, dan inilah yang kerap kali terjadi. Saya dapat melihat bahwa saat bertemu kami, sebagian teman-teman merasa minder karena merasa ‘kurang’, dibandingkan dengan kami yang berasal dari kota. Padahal jika ditilik, sungguh tidak ada alasan bagi teman-teman di desa untuk merasa rendah diri.

Sebagian besar orang kota sibuk memberi makan gengsi dan membanggakan diri mereka sendiri. Bekerja siang dan malam sibuk mengejar karir dan terikat dengan jam kantoran, mengikuti tren gadget, melakukan berbagai perjalanan yang memakan waktu dan menghabiskan banyak uang, semuanya dengan tujuan agar merasa bahagia. Logikanya adalah, kita akan merasa bahagia dan puas saat kita berhasil memperoleh hal-hal yang kita inginkan tersebut. Padahal entah secara sadar atau tidak, dengan melakukan semua itu kita mengorbankan sesuatu yang sangat berharga yang sudah kita semua miliki untuk kemudian ditukarkan dengan sesuatu yang tidak pasti. Kita membuang waktu yang kita miliki untuk ditukarkan dengan harta yang tidak pernah membuat kita puas.

Masyarakat di desa tidak seperti itu. Hidup mereka tidak terikat oleh office hour yang menghisap tenaga dan kehidupan. Saat orang kota sibuk mengejar kebahagiaan versi imajinasi, orang desa menikmati kebahagiaan versi nyata. Mereka menanam sendiri makanan yang masuk ke tubuh mereka, berkumpul dengan keluarga yang mereka sayangi, berbagi dengan tetangga, melalui hari dengan santai dan menghirup udara penuh oksigen yang segar. Kapanpun ada teman atau saudara yang butuh ditemani, mereka bisa. Tanpa harus hitung-hitung cuti. Tanpa harus bermacet-macetan.

Saya selalu menganggap bahwa dapat hidup dan menikmati kehidupan hijau di desa merupakan suatu berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan, sehingga sungguh mengherankan mengapa orang mau meninggalkan kehidupan yang tenang dan menyenangkan di desa untuk ditukarkan dengan kehidupan semrawut di kota-kota.

Di perjalanan menuju Dieng, saya sempat mampir di sebuah bukit yang menakjubkan. Waktu itu sudah malam hari. Bukit yang kami kunjungi adalah tempat mampir orang-orang. Nama tempat itu adalah Gardu Pandang. Tidak ada lampu. Awalnya saya heran. Saya pikir, mungkin lampunya rusak atau listriknya terputus. Tetapi saat saya melihat ke atas, saya mengerti kenapa tempat itu gelap. Sebutan terpana saja tidak cukup untuk menjelaskan perasaan saya. Kagum. Terhipnotis. Terkejut. Entahlah. Bintang-bintang yang bertebaran di langit di atas kepala saya sejenak membuat saya lupa sedang berada dimana. Ada sangat banyak ketombe-ketombe langit yang bersinar dengan sangat terang. Sangat menakjubkan. Ingin mengetahui makna kata ‘indahnya bintang di langit’? Pergilah ke sana. Berbaringlah dan nikmati pemandangan yang langka itu. Jangan lupa bawa jaket tebal.

Dari segi spiritual pun, kualitas kehidupan di desa-desa yang kami kunjungi jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan kehidupan kami di kota. Vihara kami di kota memang lebih besar. Lebih mudah dijangkau dan fasilitasnya sudah jauh lebih lengkap. Sebagian vihara di desa yang kami kunjungi memiliki fasilitas yang amat terbatas. Jumlah buku paritta untuk digunakan saat kebaktian amat sedikit dibandingkan dengan umat yang hadir. Bahkan sebagian vihara sudah rusak karena bencana alam. Untuk mencapai vihara pun umat setempat perlu melalui medan yang berliku dan sulit dilalui, terkadang tidak dapat dimasuki oleh kendaraan dan harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Tetapi semangat yang dimiliki sungguh membuat kami kagum. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap hadir di vihara untuk bersama-sama membaca paritta, mendengarkan dhammadesana, dan berdana. Waktu itu menjelang Waisak. Dengan memakai kemeja batik yang rapi, setiap malam mereka hadir untuk mengikuti SPD (Sebulan Pendalaman Dhamma). Bagi mereka, vihara adalah tempat yang penting dan kunjungan kami bersama bhikkhu Sanggha amatlah berarti.

Praktek berdana pun mereka lakukan dengan amat luar biasa. Tidak perlu kaya atau berlebih untuk berdana. Apapun yang mereka miliki, mereka berikan. Di Desa Kenteng, kami sempat mengikuti kegiatan yang disebut jimpitan. Saat jimpitan, para umat mengumpulkan beras dari rumah ke rumah untuk kemudian dijual. Hasilnya digunakan untuk membiayai kegiatan PATRIA (Pemuda Theravada Indonesia) di daerah tersebut. Cara mengumpulkannya adalah, setiap umat yang berpartisipasi dalam jimpitan ini menggantung gelas plastik berisi beras di depan rumah mereka. Kemudian seminggu sekali pengurus PATRIA akan datang mengumpulkan beras dari rumah ke rumah menjadi satu kantong besar.

Nah, salah satu umat yang mengikuti jimpitan adalah seorang nenek yang sudah sangat tua. Umurnya mungkin sudah lebih dari delapan puluh tahun. Dari kondisi rumahnya, kita bisa mengetahui bahwa beliau bukanlah orang yang tergolong mampu. Rumahnya tersusun dari kayu. Lantainya tanah, tidak dilapisi semen ataupun keramik. Lampu yang terlihat hanya tiga buah, lampu kuning yang penerangannya amat minim. Dipannya dari kayu. Tetapi itu semua tidak menghalangi beliau untuk berdana. Dengan segala keterbatasan yang harus ia hadapi, beliau tetap dengan tulus dan bahagia ikut jimpitan. Lantas, bagaimana dengan kita? Masih enggan berdana?

Semua hal itu merupakan hal baru untuk saya. Banyak sekali hal yang saya pelajari dari kunjungan singkat ini. Semuanya saya yakin tidak akan saya dapatkan tanpa kehadiran saya di tempat itu. Sungguh terbatas cerita yang dapat saya tuangkan di tulisan ini.

Pergilah berkunjung. Rasakan semangat dan cinta yang ditawarkan disana. Rasakan betapa hangat dan bangganya menjadi umat Buddha.  

 

Buku SMB

coversmb

Dapatkan ebook untuk Sekolah Minggu Buddhis. Ukuran file 51 Mb.