Sebuah Catatan Tentang Semangat

Tak terasa tercapai sudah 20 tahun Vihara Muladharma berdiri tegak di kota Samarinda, memberikan warna tersendiri bagi perkembangan Agama Buddha di Indonesia khususnya Theravada. Dalam merayakan HUT tersebut di bentuk lah Panitia Perayaan 20 Tahun Vihara Muladharma yang terdiri dari Dayakasabha ( pengurus Vihara) , Patria, Magabudhi, Wandani. Serta di adakan pula berbagai kegiatan seperti jalan sehat, bazar, donor darah, baksos tali asih, penghijauan, puja bakti HUT Vihara 1 juni 2013 , pindapatta, Dhammatalk. [ foto lainnya


Puncak perayaan HUT Vihara Muladharma di gelar pada tanggal 7 juli 2013 bertempat di ballroom Samarinda Central Plaza lantai 5 dengan menghadirkan Bhante Uttamo Mahathera, meskipun hujan sempat mengguyur kota Samarinda dari subuh dini hari hingga sore namun tak mengurangi antusias umat dan simpatisan untuk menghadiri acara tersebut setidaknya 1000 kursi yang telah di sediakan terisi penuh hingga membuat panitia menambah kursi.

Tamu undangan mulai berdatangan sejak pukul 17.30 wita di awali dengan makan malam bersama yang di hibur penampilan Gita Dhamma Band ( Band pemuda pemudi vihara Muladharma). Di buka dengan opening dancing oleh Gita Metta Dancer dan dilanjutkan atraksi barongsai oleh team barongsai dan naga pemuda vihara Muladharma, pukul 19.15 wita para Bhikkhu Sangha mulai memasuki ballroom tempat acara disambut dengan Hyme Muladharma dan lagu Sujud ku oleh paduan suara Vihara Muladharma, dilanjutkan Sambutan oleh ketua Panitia Ibu Liliana Tan dan Kepala Vihara Bhante Thitayaῆῆo Thera.


Dalam Anusasana nya ( ceramah pendek) Bhikkhu Uttamo menceritakan kilas balik vihara Muladharma dimana sekitar tahun 90 an. Lokasi pembangunan yang pada mulanya terasa cukup jauh dari pusat perkotaan dengan kendala di depan vihara masih belum di aspal bahkan berlumpur tebal pada musim penghujan dan masih berupa pepohonan dan semak belukar, hingga pada saat bhante menijau lokasi tersebut kaki bhante pun sempat terluka di karena kan pada waktu tersebut Bhante Uttamo belum mengenakan alas kaki, namun dengan kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah umat Buddha.

Hingga akhirnya dapat di lakukan peletakan batu pertama 1 juni 1992 serta dapat di resmikan penggunaannya oleh Bhante Sri Pannavaro pada 1 Juni 1993 , serta harapan kedepan Bhante Uttamo mengungkapkan diharapkan vihara muladharma dapat menjadi tempat penabhisan bhikkhu pertama di kalimantan, dikarenakan dharmasala vihara muladharma telah di persiapkan posisi tempat sima dan tinggal memerlukan upacara pengukuhan sima tersebut oleh para Bhikkhu Sangha , jadi sesuai dengan lirik pada hyme muladharma “ Sebagai tempat penabhisan calon anggota Sangha “ Bhante pun memberikan dua jempol buat penampilan paduan suara yang dadakan di bentuk dan hanya latihan kurang lebih 1,5 bulan.

Pada Perayaan ini di berikan pula Muladharma Award kepada para tokoh yang berjasa dalam pendirian Vihara Muladharma yakni Bhante Uttamo Mahathera, Bapak Kamudaloka Sogata, Bapak Hero Widjaya yang di serahkan langsung oleh kepala Vihara Bhante Thitayaῆῆo Thera.


Acara puncak yang dinanti nanti ialah drama teaterikal Patacara yang di bawakan dengan sangat memukau oleh Patria Samarinda dimana Tania memerankan Patacara , Sumardi sebagai suami Patacara dan Sang Buddha yang di perankan oleh Giovanni ( Ketua DPC ). Drama ini berkisah tentang seorang putri bangsawan yang jatuh hati pada pelayannya sendiri dan meninggalkan keluargannya menikah dengan pelayannya, hingga pada suatu hari ketika ia hendak melahirkan anak keduanya.

Putri bangsawan tersebut hendak melahirkan di tempat kedua orang tuanya, namun dalam perjalanan pulang mendapat musibah di mana suami nya meninggal di serang ular ,serta putra pertamanya terseret arus sungai yang deras, dan anak yang baru di lahirkan di makan oleh seekor elang. Dengan membawa kesedihan tersebut tiba di savatthi tempat kedua orang tuanya dan mendengar pula kabar bahwa kedua orang tua serta sanak saudaranya telah meninggal dalam badai yang menghantam savatthi .

Mendengar berita yang demikian tragis Patacara menjadi gila, ia tidak peduli bahwa bajunya telah terlepas dari badannya dan hampir tak berpakaian. Ia berlari-lari di sepanjang jalan berteriak-teriak tentang kesengsaraannya kemudian dia bertemu Sang Buddha.

Sang Buddha Berkata, “Patacara, jangan takut, kamu telah datang kepada seseorang yang dapat melindungimu dan membimbingmu. Sepanjang proses lingkaran kehidupan ini (Samsara), jumlah air mata yang telah kamu kucurkan atas kematian anakmu, suamimu, orang tuamu, dan saudara laki-lakimu sangat banyak, lebih banyak dari air yang ada di empat samudra.”


Setelah mendengar nasehat dari Sang Buddha, Patacara mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kemudian Patacara menjadi seorang bhikkhuni. Pada suatu hari, ia sedang membersihkan kakinya dengan air dari tempayan.

Pada saat ia menuangkan air untuk pertama kalinya, air tersebut hanya mengalir pada jarak yang pendek kemudian meresap; kemudian ia menuangkan untuk kedua kalinya. Air tersebut mengalir sedikit lebih jauh. Tetapi air yang dituangkan untuk ketiga kalinya mengalir paling jauh. Dengan melihat aliran dan menghilangkan air yang dituangkan sebanyak tiga kali, ia mengerti dengan jelas tiga tahapan di dalam kehidupan makhluk hidup.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 113 berikut:

Walaupun seseorang hidup seratus tahun,
tetapi tidak dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi,
sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi.

 

Buku SMB

coversmb

Dapatkan ebook untuk Sekolah Minggu Buddhis. Ukuran file 51 Mb.