SaddEx - Sigalovada Sutta

DSC 0771Sejak siang hari, tampak di atas, awan gelap mulai menutupi langit, membuat hari bersiap-siap menerima air hujan yang deras. Mendekati waktu acara di sore hari, turunlah hujan rintik-rintik membasahi Surabaya. Namun di suatu rumah, terlihat orang-orang mulai berdatangan beserta keluarganya masing-masing. Bhante yang berangkat dari Ngandat, Batu pun, juga menembus hujan sepanjang perjalanannya menuju tempat acara di Surabaya. Semakin malam, air hujan pun mulai mengguyur Surabaya.



Ya, SaddEx (Saddha Extended) – grup ex Patria Surabaya kembali mengumpulkan anggotanya dalam diskusi dan tanya jawab bertemakan Sigalovada Sutta bersama Bhante Jayamedho yang bertempat di rumah Saudara Yudha Wibisono (mantan Ketua DPD Patria Jatim pertama). Sungguh kesempatan langka bagi sebuah reuni kecil untuk saling bertemu melepas rindu. Di sini, anak-anak kecil yang jumlahnya banyak pun dapat saling berkenalan dan belajar membuat prakarya yang diajarkan oleh Saudari Metasia.

Setelah sambutan pembukaan oleh MC Saudari Linna dan sambutan oleh Saudari Tan Soat Lian, maka Bhante Jayamedho pun mulai memaparkan penjelasan Sigalovada Sutta. Beberapa hal di bawah ini merupakan hal-hal menarik dari aplikasi Sigalovada Sutta di kehidupan kita.

Pancasila Buddhis tetap menjadi dasar bagi kehidupan sehari-hari. Dengan menjalankan sila maka kehidupan kita menjadi aman dan dengan memiliki reputasi yang baik, kita pun akan dipercaya orang. Rejeki sendiri berasal dari kepercayaan sahabat dan kerabat terhadap kita. Seperti halnya kegelapan di malam hari, kita dapat meneranginya dengan obor. Ketika tiba waktunya, malam hari pun akan berubah menjadi pagi/siang. Begitu juga jika rejeki kita belum datang, maka kita perlu terus berdana dengan menjaga mentalitas/spirit positif. Kedekatan kita terhadap kerabat juga bisa ditandai dengan seberapa sering kita menyapa mereka seperti mengirimkan pesan “how are you?”

Di dalam lingkungan saat ini yang rawan narkoba, Bhante juga menyampaikan kepada anggota SaddEx yang telah menjadi orang tua untuk dapat mengawasi dan menjaga anak-anak mereka dengan baik. Salah satunya juga agar anak-anaknya harus berhati-hati dengan permen atau segala sesuatu yang diberikan oleh orang tidak dikenal. Sosialiasi bahaya narkoba juga diperlukan untuk dapat memberikan pengetahuan kepada orang tua dalam menjaga kehidupan anak-anaknya saat ini. Dari lingkungan keluarga yang baik, diharapkan masa depannya juga dapat tumbuh dengan baik.

Dalam hal pekerjaan, Bhante menyampaikan salah satu semboyan orang Jepang yaitu, “why not the best?”. Maksud dari hal ini yaitu jika kita bisa melakukan sesuatu, mengapa tidak melakukannya menjadi yang terbaik? Dengan melakukan hal terbaik, maka otomatis kita juga mendapatkan hasil terbaik.

Terhadap bawahan kita, kita pun juga perlu memperlakukan, merawat mereka dengan baik dan juga bisa memberikan hari libur. Ibarat seperti jempol kaki, ketika jempol kaki kita sakit, maka seluruh tubuh kita pun menjadi sakit. Oleh karena itu kita harus bersyukur memiliki bawahan yang dapat membantu memperlancar kegiatan kita.

Bagaimana dengan konsep sukses? Selama ini orang menganggap jika “saya sukses” maka saya menjadi bahagia. Namun, Bhante mengungkapkan, “Kita bahagia dahulu baru bisa sukses.” Bagaimana hal ini bisa terjadi? Supaya menjadi bahagia, maka kita perlu bersyukur dan menikmati apa yang telah kita miliki saat ini. Dari pemaparan Bhante, kebahagiaan ini ditandai dengan tidak adanya konflik batin. Kita dapat meminta maaf terhadap semua orang jika kita telah melakukan kesalahan dan kita pun juga memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan terhadap kita.

Kadang dalam hidup kita memiliki ketakutan. Ketakutan ini dapat diibaratkan seperti ombak. Ada 3 cara menghadapi/mengelola ketakutan yaitu tetap takut, mau menghadapi dan menikmati ketakutan sebagai tantangan untuk maju seperti peselancar air yang menantikan ombak tinggi.

Dalam sebuah komunikasi, Bhante juga menekankan pentingnya kejujuran yang harus disertai kebijaksanaan dan dapat melihat mood orang yang kita ajak bicara. Seperti jika kita memasak singkong 1 buah utuh dan disajikan kepada seseorang, walaupun barangnya sama, tetapi nilainya akan jauh berbeda jika kita memasak singkong itu dengan bumbu, dipotong kecil-kecil dan disajikan di atas piring yang semenarik mungkin. Perumpamaan ini oleh Bhante disebut “how to achieve the object properly”.

Setelah diskusi dan tanya jawab selesai, maka acara dilanjutkan dengan penyerahan amisa puja oleh anak-anak untuk mengajarkan mereka berdana sejak kecil. Kemudian dilanjutkan dengan ulang tahun bersama, blessing, pelimpahan jasa dan berdana kepada Bhante. Dan yang tak kalah seru adalah foto bersama. Terlihat di foto ini, semuanya seperti 1 keluarga besar. Dresscode-nya didominasi warna merah karena mau mendekati Imlek.

 

DSC 0685DSC 0771

DSC 0658

 

Buku SMB

coversmb

Dapatkan ebook untuk Sekolah Minggu Buddhis. Ukuran file 51 Mb.