Kegiatan

International Buddhist Youth Exchange 2016 – Sri Lanka

Tulisan ini menceritakan tentang pengalaman yang saya dapatkan selama mengikuti program IBYE Sri Lanka 2016, dimana disesuaikan dengan kegiatan setiap harinya sesuai program IBYE. Albert dan Dresiani tiba di Bandaranaike International Airport Colombo - Sri Lanka Pk. 21.00 waktu setempat yang bersamaan dengan rombongan dari Malaysia, kami dijemput oleh panitia. Pada hari tersebut kami bermalam di hostel, dimana kamar saya berisikan 6 orang yaitu 4 orang dari Jepang, 1 dari Ladakh, dan saya sendiri dari Indonesia. Malam itu kami dijamu makan dengan mie dan kari ayam, bumbu kari disana cukup keras jadi saya hanya makan secukupnya saja. Peserta IBYE Sri Lanka 2016 terdapat 19 orang, 2 dari Indonesia, 5 dari Jepang, 3 dari Ladakh, 7 dari Malaysia, dan 2 dari Sri Lanka.

16 Agustus 2016
Hari pertama jadwal acara IBYE yaitu opening ceremony yang dilaksanakan di Kandy, kami berangkat sekitar Pk 05.00 dan tiba sekitar Pk 09.00 kami semua tidur saat perjalanan karena kami tiba malam dan harus bangun sangat pagi. Sesampainya di Kandy kami menuju sebuah hotel dimana akan dilaksanakannya opening ceremony, yang dihadiri oleh Venerable Medagama Dhammananda Thero selaku Vice President of World Fellowship of Buddhists (WFB), Mr. Jagath Sumathipala selaku Executive Council Member of the World Fellowship of Buddhists (WFB), Mr. Loka Ng Sai Kai selaku Acting President of the World Fellowship of Buddhists Youth (WFBY), dan Ms. Puthula Sumathipala Mayakaduwa selaku Chairperson of Organising Committee International Buddhist Youth Exchange Sri Lanka. Acara dilaksanakan dengan permohonan Pancasila kepada Bhante Dhammananda dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan beserta penyalaan pelita oleh undangan beserta perwakilan peserta tiap negara. Selesai opening ceremony peserta melakukan registrasi ulang dan membayar biaya pendaftaran, dan mendapat name tag, baju, topi, dan beberapa buku. Selesainya opening ceremony, kami mengikuti beberapa game keakraban untuk mengenal satu sama lainnya. Setelah memainkan 2 game, kami pun berangkat menuju kuil Dalada Maligawa dimana relik gigi sang Buddha berada, sesampainya disana kami berkeliling sambil mendengarkan beberapa penjelasan dari seseorang, ia menceritakan tentang kisah dari relik gigi ini dan perkembangan ajaran Buddha di Sri Lanka, dan kami juga mempersembahkan bunga teratai pada relik tersebut. Setelah berkeliling kami beristirahat sejenak di dekat tempat relik gigi tersebut dan melihat persiapan perayaan Esala Perahera yang akan kami tonton pada malam harinya. Esala Perahera merupakan parade perayaan untuk relik gigi sang Buddha dan 4 dewa pelindung kuil tersebut. Disana kami diberikan buku mengenai sacred tooth relic dan kembali menuju hostel untuk mandi dan bersiap-siap untuk acara Esala Perahera, sayangnya semua koper dan perlengkapan kami tertinggal di bis sehingga kami tidak dapat melakukan apa-apa di hostel tersebut, sehingga kami hanya berbincang-bincang satu sama lainnya. Perayaan atau parade Esala Perahera ini dilakukan di kota Kandy, seluruh penduduk Kandy datang dan duduk di trotoar, teras toko, dan beberapa menonton dari bangunan-bangunan sekitar. Banyak yang membagikan makanan, dan minumnan gratis, banyak polisi yang berjaga untuk mengamankan parade tersebut, dan ada juga tim medis yang berjaga-jaga. Kami tiba di sebuah Bank untuk menonton parade tersbut sekitar Pk 18.00, kondisi dipinggir jalan sudah sangat ramai, warga membawa alas duduk dan beberapa bekal untuk menonton acara ini. Banyak juga terdapat dagang asongan yang berjualan sembari menunggu acara ini dimulai. Parade relik gigi ini dimulai sekitar Pk 19.30, walaupun sempat hujan tetapi tidak menyebabkan warga yang menonton bubar, melaikan mereka sudah membawa payung dan menggunakannya. Acara dimulai dengan bendera Sri Lanka di paling depan diikuti oleh bendera Buddhis, serta diiringi oleh tarian-tarian tradisional dan atraksi yang sangat menarik. Pada parade ini gajah-gajah dipakaikan kostum yang diberikan lampu-lampu yang berwarna warni, pada saat sacred tooth relic itu melewati lokasi kami seluruh warga bangkit dan beranjali sebagai rasa hormat terhadap relik tersebut. Menurut Dilum salah satu panitia IBYE yang berasal dari Sri Lanka, mereka yang turut melakukan tarian dan atraksi harus vegetarian selama suatu masa tertentu sebelum tampil dalam acara ini. Acara ini berlangsung selama 3 jam, setelah acara ini selesai kami kembali ke hostel dan beristirahat.

17 Agustus 2016
Hari kemerdekaan NKRI ini diawali dengan menyanyikan Indonesia raya di bis saat perjalan menuju Sigiriya Rock, saya dan Dres menyanyiakn Indonesia raya, awalnya ada perasaan malu namun berubah menjadi perasaan bangga karena dapat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia di Sri Lanka dihadapan teman-teman dari berbagai negara. Sesampainya di Sigiriya Rock kami pun mendaki, sangat banyak pengunjung yang datang untuk mendaki tempat tersebut, hal ini dikarenakan bulan terang merupakan libur nasional di Sri Lanka. Sigiriya Rock ini dulunya merupakan benteng yang dibangun oleh pangeran Kasyapa pada abad ke-5, tinggi Sigiriya Rock ini mencapai 200 meter. Setelah tiba di puncak, kami melihat pemandangan yang sangat indah dan asri, angin yang bertiup juga sangat kencang. Karena antrian yang lama untuk mencapai puncak sehingga kami terlambat untuk acara berikutnya sehingga kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Dambulla Rock. Sesampainya di Dambulla Rock kami mendapat jamuan dari Venerable Medagama Dhammananda Thero, beliau yang hadir pada opening ceremony pada hari pertama. Kami di blessing oleh beliau, bhikkhu-bhikkhu lainnya dan samanera-samanera disana dan diberikan gelang berwarna putih. Setelah beristirahat sejenak disana kami kembali mendaki Dambulla Rock. Sesampainya di puncak kami masuk ke Dambulla Cave, tempat ini tidak setinggi Sigiriya Rock namun memiliki banyak stupa dan arca Buddha yang dikatakan telah ada lebih dari 400 tahun lamanya. Seluruh sisi gua dilukis dengan cerita-cerita sang Buddha dimana terdapat sebuah arca Buddha dengan posisi berbaring yang cukup besar, bhante Dhammananda turut hadir disini dan menjelaskan apapun yang kami tanyakan. Beliau menjelaskan bahwa posisi kaki sang Buddha dengan kondisi berbaring ada dua yang pertama posisi ibu jari kakinya rata yang berartikan sang Buddha sedang beristirahat, sedangkan bila posisi ibu jari kakinya tidak rata itu berarti telah Parinibana. Dambulla itu sendiri memiliki arti “dam” yang berarti sumber air, dan “bulla” yang berarti batuan, sehingga dambulla berarti sumber air dari batu, dan disana memang terdapat sebuah tungku yang berisikan air dimana diceritakan bahwa pada jaman dahulu para pangerang menggunakan air tersebut dan sebanyak apapun air tersebut digunakan air yang berada di tungku tersebut tidak pernah berkurang, namun sekarang sudah diberikan kurungan sehingga tidak dapat diambil oleh para pengunjung. Setelah kita tunggu memang benar setiap beberapa menit air menetes dari langit-langit bebatuan pada gua tersebut yang masuk pada tungku tersebut. Setelah berkeliling kami melanjutkan perjalanan menuju Anuradhapura dan akan melakukan puja di Sri Maha Bodhi dan Ruwanwelisaya. Sri Maha Bodhiya Temple merupakan salah satu kuil paling sakral di Sri Lanka. Saya tertakjub-takjub ketika mengetahui bahwa pohon ini merupakan keturunan langsung pohon Bodhi dimana petapa Siddhartha mencapai penerangan sempurna. Batang pohon Bodhi ini dulu dibawa oleh Sanghamitta ke Anuradhapura pada abad 288 SM, pohon Bodhi ini sangat besar hingga cabang-cabangnya diberikan penyangga dan dibuatkan dinding dengan panjang sekitar 700 kaki. Dinding tersebut dulunya dibuat untuk melindungi pohon tersebut dari gajah liar. Saat kami sedang menunggu teman-teman yang lainnya datang, salah seorang penduduk pribumi yang tidak kami kenal menghampir kami dan memberikan bunga teratai untuk dipersembahkan kepada sang Buddha melalui pohon Bodhi tersebut. Perasaan saya waktu sangat takjub dan tersentuh, bagi saya bunga teratai sangat luar biasa dan inisiatif orang tersebut untuk memberikan bunga agar dapat kami persembahkan itu luar biasa. Saya sangat senang dapat datang, berdoa, dan melihat secara langsung pohon Bodhi yang luar biasa ini. Sangat banyak umat yang kemari dan berdoa, pada dasarnya paritta yang digunakan sama dengan yang kita gunakan, namun lebih bervariasinya. Kami melakukan puja dan bermeditasi sesaat sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Ruwanwelisaya. Ruwanweli saya ini merupakan stupa yang sangat besar dan sangat bersejarah, tempat ini juga merupakan salah satu tempat paling sakral di Sri Lanka sehingga sangat banyak umat Buddha untuk berdoa dan bermeditasi, dan juga hari itu merupakan bulan purnama sehingga umat berbondong-bondong datang kemari. Kami berkeliling, mempersembahakan bunga teratai pada arca Sang Buddha, berdoa, dan bermeditasi bersama. Karena keterbatasan waktu, kami pun harus kembali ke hotel.

18 Agustus 2016
Hari ini kami melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah di Atamasthana yang memiliki 8 tempat pemujaan utama yaitu Sri Maha Bodhiya, Ruwanwelisaya, Thuparama, Lovamahapaya, Abhayagiriya, Jetavanaramaya, Mirisavetiya, dan Lankaramaya. Atamasthana ini dulunya merupakan area kerjaan sehingga stupa, candi dan beberapa tempat bersejarah berada berdekatan satu sama lainnya. 2 dari 8 tempat tersebut telah kami kunjungi hari sebelumnya, kami berkeliling mengabadikan beberapa foto disana. Hari itu kami hanya mampir di Abhayagiri Dagaba dan Lankarama. Abhayagiri Dagaba merupakan stupa besar mirip dengan Ruwanwelisaya yang kami kunjungi sebelumnya, namun untuk Ruwanwelisaya sudah di renovasi lebih baik. Abhayagiri Dagaba ini dulu sempat hancur dan telah di rekonstruksi ulang menyerupai bentuk asalnya, dan masih pada tahap mengerjaan. Lankarama merupakan area yang cukup luas dimana diarea ini kami singgah di Kuttum Pokuna (Kolam Kembar) dan Samadhi Buddha Statue. Untuk tempat-tempat lainnya kami hanya melintasi dengan bis saja. Setelah berkeliling cukup lama kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat Sri Lanka Red Cross Society (Perkumpulan palang merah Sri Lanka). Sesampainya di tempat Palang Merah kami disambut dengan diberikan bunga dan juga makanan ringan, setelah beristirahat dan mengobrol sejenak acara dilanjutkan dengan pelatihan. Pelatihan pertama adalah mengenai bagaimana melakukan pertolongan pertama pada orang yang tersedak, cara pertama adalah dengan meminta korban untuk memuntahkannya (posisi tubuh berdiri dan sedikit membungkuk), bila tidak berhasil minta ia posisi berdiri dengan tubuh membungkuk 90° dan sambil memintanya berusaha memuntahkannya tepuk punggung atara tulang belikatnya dengan disertai dorongan ringan, bila hal ini juga tidak berhasil peluk korban dari belakang dan posisikan tangan kita seperti posisi meditasi (tangan yang ditumpuk dan jempol yang dipertemukan) dengan posisi tangan seperti ini tekan bagian ulu hati kearah atas dengan kedua jempol kita tersebut dan makanan atau benda yang tersangkut tersebut akan keluar, mereka mengatakan cara terakhir pasti berhasil. Pelatihan ke-2 mengenai korban pingsan, untuk mengatasinya cukup mudah hanya melonggarkan pakaiannya bila korban menggunakan pakaian ketat, sabuk atau apapun yang mengganggu pernafasannya, kemudian baringkan dan angkat kaki korban maka korban akan segera sadarkan diri. Pingsan pada dasarkan karena kurangnya O2 yang masuk ke otak sehingga kita upayakan untuk mengalirkan darah ke otak. Pelatihan ke-3 adalah mengenai korban gigitan ular berbisa, untuk kondisi ini korban dilarang untuk berbaring, upayakan daerah gigitan ular tersebut posisinya lebih rendah dari jantung dan otak untuk memperlambat penyebaran bisa, upayakan untuk menenangkan korban agar bisa tidak mengalir terlalu cepat, balut luka gigitan ular dengan perban dengan kuat dan segera bawa ke rumah sakit terdekat. Selain pelatihan dari palang merah tersebut kami juga mendapat pelatihan dari salah seorang mentor bernama Asitha yang memiliki pengalaman selama 14 tahun, pada pelatihannya dapat disimpulkan bahwa seseorang memerlukan 2 hal untuk dapat sukses, yaitu Competent dan Character dimana kompetensi dan karakter tersebut merupakan hal penting dalam berkembangnya seseorang. Adapun game yang diberikan pada pelatihan tersebut yaitu merangkai peta dunia, dimana kami fokus untuk merangkai peta dunia, namun kelompok lainnya menyadari bahwa di balik gamabar peta duna tersebut terdapat gambar seseorang sehingga mereka dapat dengan cepat menyelesaikannya. Dari game tersebut dijelaskan bahwa sebelum kita ingin merubah dunia atau lingkungan diluar kita, kita harus merubah diri sendiri terlebih dahulu karena diri sendiri tersebut juga merupakan bagian dari dunia dan lingkungan itu sendiri. Ada pula permainan dengan membuat menara dari pasta dengan marshmallow di ujungnya, diskusi mengenai beberapa masalah yang ada di sekitar kita. Kegitan pelatihan pun berakhir dan kami diizinkan untuk bermain-main dilingkungan disana dan setelahnya kami bersiap-siap untuk acara api unggun. Kegiatan api unggun pun dimulai dengan menyanyikan lagu daerah dari masing-masing negara, dan talent show dari masing-masing negara dengan menggunakan pakaian daerah masing-masing, dari Malaysia menyanyikan lagu “Rasa Sayang”, dari Jepang menyanyikan lagu kebangsaannya, dari Ladakh menyanyikan lagu daerah, Sri Lanka menyanyikan lagu daerahnya sembari melakukan beberapa atraksi, sedangkan Indonesia sedikit berbeda, kami menampilkan pewayangan dengan mengadopsi cerita Malin Kundang, sebelumnya saya dan Dress belum pernah berlatih namun tanpa ragu kami tampilkan saja semampunya. Banyak dari mereka yang menikmati pertunjukan kami, dan sebagian ada yang mengatakan yang sedih dan berlinang air mata, hal tersebut dapat diartikan bahwa pertunjukan kami cukup sukses menyampaikan isi cerita tersebut dan dapat dimengerti oleh mereka. Acara diakhiri dengan bernyanyi, menari bersama dan akhirnya kami pun beristirahat.

19 Agustus 2016
Pagi ini kami kembali ke Colombo, dan menuju ke gedung Parlemen Sri Lanka. Sesampainya disana kami diminta untuk meninggalkan semua barang kami di bis karena pengamanan yang ketat oleh pihak security. Setelah masuk kami semua menuju ke ruangan seseorang bagian pemerintahan yang posisinya 1 tingkat di bawah perdana menteri, dan yang menarik adalah beliau adalah paman dari salah satu panitia IBYE Sri Lanka, itu lah sebabnya mengapa kami dapat berkunjung ke gedung parlemen ini. Kami berbincang dan berfoto bersama, dan setelah itu kami berkeliling gedung tersebut masuk ke ruangan rapat parlemen dimana tempat tersebut mirip seperti ruang rapat parlemen di Indonesia. Kami juga berkunjung ke ruangan President, melihat perdana menteri terdahulu dan diakhir perjalanan kami makan siang di gedung parlemen tersebut. Makanan di Sri Lanka pada dasarnya seperti kari pekat, kurang cocok dengan perut saya sehingga selama di Sri Lanka saya hanya makan sedikit, namun saat di perlemen kami disuguhkan makanan yang netral sehingga saya dapat makan dengan baik disana. Setelah dari parlemen kami malanjutkan perjalanan menuju Maithree Children Development Centre yang di kembangkan oleh ACBC (All Ceylon Buddhist Congress), dimana ACBC merupakan salah satu pembentuk WFB (World Fellowship of Buddhists) tahun 1950 dan pendukung dari WFBY (World Fellowship of Buddhist Youth). Sesampainya disana kami berbincang bersama dan mengakrabkan diri dengan anak-anak disana, kami kesulitan dalam hal komunikasi namun dibantu oleh Pamudi dan Tutu yang merupakan perwakilan dari Sri Lanka, yang menarik disini adalah anak-anak tersebut sangat menghormati Phutula (ketua IBYE Sri Lanka) dengan bernamaskara dengan menyentuh kaki nya terlebih dahulu dengan tangan dan bernamasakana di kakinya. Kunjungan ini diakhiri dengan foto berasama dan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat ACBC. Sesampainya di ACBC kami langsung memasuki ruangan rapat, disana turut hadir ketua dari ACBC Dr. Praneeth Abhayasundere dan segenap jajarannya. Kami memperkenalkan diri disana, menyampaikan kesan-kesan mengenai Sri Lanka, kami juga disuguhi beberapa makanan ringan dan diakhir kami diberikan souvenir. Kami berfoto bersama dan menuju hotel untuk bersiap-siap untuk makan malam bersama di Mount Lavinia Hotel, dimana hotel bintang 5 ini merupakan hotel yang sudah sangat tua dan bersejarah di Sri Lanka. Kami pun akhirnya tiba di hotel Mount Lavina, tempatnya megah dan berada di pesisir pantai. Disana kami berbicang-bincang, makan malam bersama, dan berfoto bersama. Selesai makan kami pun bermain di pantai. Setelah lelah dan waktu yang sudah cukup larut kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Kami juga diberikan tugas untuk mempresentasikan program ini esok hari saat penutupan IBYE Sri Lanka 2016.

20 Agustus 2016
Pagi hari kami bangun dan mempersiapkan presentasi dan juga sarapan di hotel. Sesampainya di tempat penutupan kegiatan kami duduk dan mengikuti prosesi tersebut, dan kami pun mempresentasikan apa yang sudah kami persiapkan di pagi hari satu persatu. Acara ditutup dengan penyerahan sertifikat dan souvenir dari IBYE. Setelah itu kami pun makan siang, mengelilingi tempat tersebut dan berfoto bersama sebagai akhir dari kegiatan ini. Kami melanjutkan perjalanan ke Kelaniya Raja Maha Viharaya. Diperjalanan kami bertukar souvenir, dari Jepang, dan Malaysia memberikan makanan ringan, dari Ladakh memberikan kartu nama dan hiasan bertuliskan “om mani padme hum”, kami dari Indonesia memberikan sumpit dari kayu, dan dari Sri Lanka memberikan gantungan kunci. Yang menarik disini adalah, peserta dari Ladakh sangat gencar mempromosikan mengenai Ladakh dengan memberikan kartu nama, bercerita tentang Ladakh dan memberikan brosur tentang organisasi mereka, mereka ber 3 dan semuanya memberikan kartu nama. Kelaniya Raja Maha Viharaya merupakan kuil dimana relik rambut dan tubuh sang Buddha berada, kami berkeliling dan bertemu salah seorang Bhikkhu senior dan mendapat penjelasan-penjelasan mengenai lukisan dan benda-benda yang berada di tempat tersebut. Di akhir kami mendapat blessing oleh beberapa bhikkhu dan diberikan gelang seperti pada saat di Dambulla Rock. Di ruangan kami mendapatkan blessing terdapat patung-patung yang cukup unik dimana Bhikkhu tersebut menjelaskan bahwa hantu atau peta tidak dapat menembus dinding saat para bhikkhu menbaca parita di ruangan tersebut sehingga dibuatkan semacam portal atau pintu agar para peta atau hantu tersebut dapat masuk dan mendengarkan dhamma. Kami melanjutkan kegiatan menuju mall di Colombo untuk shopping. Sesampainya di Mall tersebut kami berkeliling mencari barang-barang untuk oleh-oleh, namun karena mall barang-barangnya sudah modern, sehingga saya kesulitan mencari sesuatu yang menarik. Tepat sebelum akan meninggalkan mall tersebut saya memutuskan untuk membeli teh dan tas bergambarkan gajah bertulisan Sri Lanka. Kami berencana melanjutkan makan malan di restaurant Chinese namun karena penerbangan saya dan Dress besok pagi jam 10 dan juga salah 1 partisipan dari Malaysia bernama Tee Ke Hui memiliki penerbangan malam itu sehingga kami berpisah sebelum makan malam, kami mengantar peserta dari Malaysia tersebut ke bandara dan kami di antar ke hostel dekat bandara. Yang cukup disayangkan adalah kejelasan dari panitia mengenai kepulangan kami, ada yang mengatakan kami berpisah sebelum makan malam, dan ada yang bilang kami berpisah setelah makan malam. Sehingga saya dan Dress tidak sempat mengucapkan salam perpisahan ke teman-teman lainnya.

21 Agustus 2016
Kami menuju bandara dengan taxi yang bentuknya menyerupai bajai dengan sebutan tuktuk. Hostel kami sangat dekat dengan bandara hanya 10 menit perjalanan, dan akhirnya kami pun meninggalkan Sri Lanka pagi itu.

Demikian laporan yang dapat saya sampaikan, semoga dapat dimengerti dan menjadi informasi baru bagi teman-teman PATRIA.

Teman-teman di Malaysia menggunakan 3 bahasa dalam kehidupan sehari-hari yaitu Melayu, Inggris, dan Mandarin, alangkah baiknya bila kita dapat menggunakan Bahasa Inggris pada kegiatan-kegiatan pelatihan guna menumbuhkan kebiasaan berbahasa Inggris, bukan grammar yang sempurna yang dibutuhkan tetapi kebiasaan untuk menggunakannya. Bagi yang mampu menggunakan Bahasa mandarin diharapkan dapat mengajarkan rekan-rekan lainnya sehingga PATRIA semakin berkembang kedepannya.

Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
Sadhu Sadhu Sadhu..
 

Buku SMB

coversmb

Dapatkan ebook untuk Sekolah Minggu Buddhis. Ukuran file 51 Mb.