Sebuah Pandangan pada Kalama Sutta

Sebuah Pandangan pada Kalama Sutta
A Look at the Kalama Sutta

 

Penterjemah : Cittasudhammo Demmy Sutjipto
Editor : Mettavijjo Laurensius W
Sumber :  "A Look at the Kalama Sutta", by Bhikkhu Bodhi. Access to Insight (Legacy Edition), 5 June 2010, 

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/bodhi/bps-essay_09.html


Dalam terbitan artikel ini kami mengkombinasikan antara risalah dengan kolom Studi Sutta sambil melihat kembali sebuah Khotbah Buddha yang sering dikutip, yaitu Kalama Sutta. Khotbah tersebut – (dapat dilihat terjemahannya pada http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/soma/wheel008.html)- yang telah digambarkan sebagai “Piagam Buddha akan Kebebasan untuk Penyelidikan”,

dan tentunya khotbah tersebut berlawanan dengan sabda dogmatis dan kepercayaan membuta dengan ajakan kuat untuk penyelidikan bebas (investigasi), yang bermasalah adalah apakah benar sutta dapat mendukung semua hal yang bersumber darinya. Pada satu bagiannya, di petik diluar konteks, Sang Buddha telah menyatakannya secara empiris pragmatis menolak semua doktrin dan iman, yang mana Dhamma Nya merupakan sekedar alat bagi seorang para pemikir bebas untuk melihat kebenaran yang mengundang setiap orang untuk menerima dan menolak apapun yang ia suka.

Tetapi apakah Kalama Sutta sesungguhnya membenarkan pandangan tertentu? Atau apakah kita hanya menemukan bahwa pernyataan ini hanya sebagai bentuk variasi lain dari kecenderungan lama yang berbahaya dengan menafsirkan Dhamma sesuai dengan pengertian yang menyenangkan bagi dirinya sendiri –atau kepada mereka yang ia sedang ajarkan? Mari kita melihat dengan lebih seksama terhadap Kalama Sutta mengenai batasan ruang yang ada hingga uraian ini dapat diberikan, dengan mengingat bahwa untuk dapat mengerti perkataan Sang Buddha dengan benar sangatlah penting untuk memperhatikan niat beliau dalam membabarkannya.

Bagian yang sering dikutip adalah seperti ini: “Marilah, Suku Kalama. Jangan percaya hanya karena telah mendengarnya berulang-ulang, ataupun karena tradisi, ataupun karena kabar angin, ataupun karena tertulis dalam kitab suci, ataupun karena menduga, ataupun sekedar penalaran logis, penalaran melalui kesimpulan, pemikiran berdasarkan perenungan, ataupun karena seseorang yang terlihat meyakinkan, ataupun karena pertimbangan tersebut menganggap ‘Pertapa ini adalah guru kami.’
Ketika dirimu sendiri mengetahui : ‘Hal ini adalah buruk, tidak patut, dicela oleh para bijaksana; bila dipatuhi dan dilaksanakan, hal ini dapat membawa pada bahaya dan penderitaan, ‘ tinggalkanlah hal itu.
Ketika kamu mengetahuinya sendiri bahwa : ‘Hal ini baik, tidak tercela, dipuji para bijaksana; patuhi dan laksanakan, hal tersebut akan membawa manfaat dan kebahagiaan,’ ambillah dan menetaplah disana.” Kalimat ini, seperti juga uraian lainnya yang dikatakan oleh Sang Buddha, diucapakan sesuai dengan konteks tertentu sesuai dengan pendengar dan situasi saat itu dan hal ini perlu dimengerti dalam kaitannya dengan konteks tersebut. Suku Kalama, merupakan penduduk kota Kesaputta, yang telah dikunjungi oleh berbagai guru-guru agama yang memiliki pandangan berbeda-beda, mereka mengunggulkan ajarannya masing-masing dan menjatuhkan ajaran-ajaran pendahulunya. Hal ini membuat Suku Kalama bingung, dan demikian ketika petapa Gotama, yang terkenal sebagai Yang Tercerahkan, tiba di kota mereka, mereka mendekati beliau dengan harapan beliau dapat menghilangkan kebingungan mereka. Dari pengembangan selanjutnya akan sutta ini, terlihat jelas bahwa masalah yang membingungkan mereka adalah kebenaran tumimbal lahir dan pengaruh hukum kamma dalam hal perbuatan baik dan buruk.

Sang Buddha memulainya dengan meyakinkan Suku Kalama bahwa dalam dalam kondisi seperti itu adalah layak bagi mereka untuk meragukan, sebuah jaminan yang mendorong untuk bebas memilih. Kemudian beliau mengucapkan kalimat yang dikutip diatas, menasehati Suku Kalama untuk meninggalkan hal-hal yang mereka ketahui sendiri sebagai perbuatan buruk dan melakukan hal—hal yang mereka ketahui sendiri sebagai perbuatan baik. Nasehat ini akan berbahaya jika diberikan kepada mereka yang secara etika belum berkembang, dan kita dapat menyimpulkan bahwa Sang Buddha menanggap Suku Kalama sebagai orang-orang yang memiliki kepekaan moral yang baik. Dalam peristiwa apapun beliau tidak meninggalkan mereka sepenuhnya dengan sumber mereka sendiri, namun dengan menanyai mereka akan membawa mereka untuk dapat melihat bahwa keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, dapat mengundang bahaya dan penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain, adalah patut ditinggalkan , dan sebaliknya, jika bermanfaat bagi semua, adalah patut untuk dikembangkan.

Kemudian Sang Buddha menjelaskan bahwa seorang “siswa mulia, tidak memiliki ketamakan dan kehendak jahat, tidak bodoh” berdiam meliputi dunia ini dengan cinta kasih (metta) tak terbatas, kasih sayang (karuna), bahagia melihat orang lain berbahagia (muditta), dan keseimbangan batin (upekkha), mereka yang terbebas dari kebencian dan kedengkian, ia menikmatinya disini dan saat ini dengan empat “penghiburan”: Jika ada kehidupan setelah ini dan hasil kamma, maka ia akan memperoleh kelahiran kembali yang baik, tetapi jika itu tidak ada ia tetap saja hidup bahagia disini dan saat ini; jika sebab buruk menimpa si pembuat kejahatan, maka tidak akan ada hal buruk yang menimpanya, dan jika sebab buruk tidak menimpa si pembuat kejahatan, ia tetap saja termurnikan. Dengan ini Suku Kalama menyampaikan penghargaannya atas Khotbah Sang Buddha dan mereka mengambil perlindungan kepada Tiga Permata.

Sekarang apakah Kalama Sutta menyarankan, seperti yang sering dikatakan, bahwa seorang pengikut jalan Buddhis dapat membuang semua keyakinan dan doktrin, dimana ia seharusnya membuat pengalamannya sendiri sebuah kriteria untuk menguji kebenaran ucapan Sang Buddha dan menolak apa yang tidak sesuai? Adalah benar Sang Buddha tidak meminta Suku Kalama untuk menerima apapun yang beliau katakan, tetapi mari kita catat satu hal penting ini: Suku Kalama, di awal khotbah, bukanlah murid Sang Buddha. Mereka mendekati beliau sebegai seorang konselor yang mungkin dapat membantu untuk menghilangkan keraguan mereka, tetapi mereka tidak datang kepada Nya sebagai seorang Tathagata, Sang Pencari Kebenaran, yang mungkin akan menunjukkan kepada mereka jalan menuju kemajuan spritual dan pada kebebasan tertinggi.

Dengan demikian, karena Suku Kalama belum menerima Sang Buddha dalam hal misi beliau yang unik, sebagai penyingkap kebenaran yang membebaskan, sehingga tidak ada ruang untuk Nya untuk membabarkan Dhamma yang unik : seperti ajaran tentang Empat Kebenaran Mulia, tiga corak kehidupan, dan metode perenungan yang berlandaskan kepadanya. Ajaran-ajaran ini secara khusus ditujukan kepada mereka yang telah menerima Sang Buddha sebagai pemandu kepada pembebasan, di dalam sutta Beliau hanya membabarkannya secara terperinci hanya kepada mereka yang memiliki “keyakinan kepada Tathagata” dan yang memiliki pandangan yang diperlukan untuk dapat menggengamnya dan menerapkannya. Tetapi, pada awal khotbah, Suku Kalama belumlah menjadi lahan yang subur bagi Sang Buddha untuk memanamkan benih-benih kebebasan. Mereka masih dibingungkan oleh pernyataan yang saling bertentangan yang menghantam mereka, mereka bahkan belum jelas akan landasan moralitas.

Meskipun demikian, setelah menasehati Suku Kalama untuk tidak mengandalkan tradisi, penalaran abstrak, dan guru yang berkharisma, Sang Buddha menawarkan kepada mereka sebuah ajaran yang dapat segera dibuktikan dan dapat mampu memberikan landasan yang kuat untuk kehidupan dengan dengan displin moral dan pemurnian pikiran. Beliau menunjukkan bahwa ada atau tidak kehidupan lain selain kematian, sebuah kehidupan dengan pengendalian moral dan cinta kasih serta welas asih untuk semua makhluk akan memberikan penghargaan yang mendalam disini dan saat ini, sebuah kebahagiaan dan perasaan aman kedalam yang jauh lebih unggul dibandingkan kesenangan rapuh yang didapat dari pelanggaran prinsip-prinsip moral dan pemuasan nafsu keinginan. Bagi mereka yang tidak peduli untuk melihat lebih jauh, yang tidak siap untuk menerima kepercayaan tentang kehidupan yang akan datang dan dunia setelah yang sekarang ini, ajaran ini akan memastikan kesejahateraan mereka pada saat ini dan perjalanan yang aman untuk kelahiran kembali yang menyenangkan – sehingga mereka tidak jatuh pada pandangan salah menyangkal kehidupan setelah kematian dan hukum sebab-akibat (kamma).

Akan tetapi, bagi mereka yang dapat melihat lebih lebar meliputi cakrawala yang lebih luas dari keberadaan kita, ajaran ini memberikan Suku Kalama pandangan secara tidak langsung kepada inti dari Dhamma. Untuk tiga hal yang dikemukakan untuk diuji oleh Sang Buddha – Keserakahan, Kebencian, dan kebodohan batin – bukan landasan saja untuk tindakan salah atau noda-noda moral dalam pikiran. Dalam kerangka ajaran beliau mereka merupakan akar dari semua kekotoran – penyebab utama untuk semua keterikatan dan penderitaan – dan seluruh praktek Dhamma dapat dipandang sebagai tugas untuk melenyapkan tiga akar kejahatan ini dengan menyempurnakan penawarnya - ketidak melekatan, kebaikan hati, dan kebijaksanaan.

Jadi, khotbah kepada Suku Kalama menawarkan sebuah batu loncatan untuk memperoleh kepercayaan dalam Dhamma sebagai ajaran yang patut untuk pembebasan. Kita memulai dengan ajaran yang segera dapat dibuktikan yang keabsahannya dapat diuji oleh siapapun dengan integritas moral untuk mengikutinya dengan menyimpulkan, antara lain, bahwa kekotoran batin menyebabkan bahaya dan penderitaan bagi diri sendiri dan sosial, bahwa melenyapkannya membawa kedamaian dan kebahagiaan, dan praktik yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah cara yang mampu untuk melenyapkannya. Dengan meletakkan ajaran ini untuk diuji secara pribadi, diawali hanya dengan kepercayaan sementara pada Sang Buddha sebagai jaminan seseorang, ia akhirnya tiba pada landasan kepercayaan kokoh berdasarkan pengalaman dalam pembebasan dan kekuatan pemurnian dari Dhamma. Kepercayaan yang meningkat dalam ajaran ini juga membawa pada keyakinan yang lebih mendalam kepada Sang Buddha sebagai guru, dengan demikian seseorang dapat menerima kepercayaan pada prinsip-prinsip, ia fokus pada hal-hal yang relevan dalam pencarian kebangkitan, bahkan ketika mereka sedang berada diluar kapasitas nya sendiri untuk membuktikan. Hal ini pada kenyataannya menandai perolehan pandangan benar, yang merupakan hal paling dasar sebagai awal mula dari Jalan Mulia Berunsur Delapan secara keseluruhan.

Sebagian sebagai reaksi terhadap agama dogmatis, sebagian sebagai ketaatan terhadap paradigma pengetahuan ilimiah objektif yang sedang berlaku, hal itu sudah menjadi tren untuk dipegang, dengan membandingkan dengan Kalama Sutta, bahwa ajaran Sang Buddha meninggalkan keimanan dan doktrin yang dirumuskan dan mengajak kita untuk menerima hanya bila kita telah membuktikannya sendiri. Tetapi, penafsiran terhadap sutta tersebut, nampaknya melupakan nasehat yang Sang Buddha berikan kepada Suku Kalama berdasarkan pada kondisi pemahaman mereka yang belum siap untuk menempatkan keyakinan kepada Buddha dan ajaranNya; dan juga lupa bahwa sutta diabaikan, karena alasan itu, semua menyebutkan pandangan benar dan dari keseluruhan perspektif yang terbuka ketika pandangan benar diperoleh. Ini justru menawarkan nasehat yang paling masuk akal pada kemungkinan kehidupan yang bajik ketika masalah keyakinan tertinggi telah dikelompok-kelompokkan.

Apa yang dapat dipertahankan adalah bahwa aspek-aspek ajaran Buddha yang datang dalam lingkup pengalaman kita sehari-hari dapat dibuktikan oleh masing-masing melalui pengalaman, dan konfirmasi ini memberikan sebuah alasan untuk menempatkan keyakinan terhadap aspek-aspek ajaran tersebut yang memerlukan lebih dari pengalaman biasa. Keyakinan terhadap ajaran Buddha tidak pernah dianggap sebagai akhir maupun sebuah jaminan yang cukup untuk kebebasan, tetapi merupakan sebuah titik awal untuk sebuah proses berkembang untuk perubahan menuju pada pencapaian dalam pengetahuan mendalam. Tetapi agar pengetahuan mendalam ini sungguh mampu untuk pembebasan, ini harus terungkap dalam konteks pemahaman yang akurat tentang kebenaran penting mengenai situasi kita di dunia dan ranah dimana pembebasan harus dicari. Kebenaran ini telah disampaikan kepada kita oleh Sang Buddha karena pemahaman beliau yang mendalam akan kondisi manusia. Untuk menerimanya setelah mepertimbangkan dengan seksama adalah seperti menapakkan kaki dalam sebuah petualangan yang mengubah keyakinan menjadi kebijaksanaan, yakin terhadap yang pasti, dan pada puncaknya yaitu terbebas dari penderitaan.  

 

Buku SMB

coversmb

Dapatkan ebook untuk Sekolah Minggu Buddhis. Ukuran file 51 Mb.