Kebersamaan Logika dan Hati Membawa Kebijaksanaan pada Brahma-vihara

Kebersamaan Logika dan Hati Membawa Kebijaksanaan pada Brahma-vihara
oleh : Bhikkhu Thanissaro
© 2009-2011

Brahma-vihara , atau "sikap luhur," adalah jantung utama ajaran utama Buddha – salah satu yang menghubungkan langsung terutama dengan keinginan kita akan kebahagiaan sejati. Istilah brahma-vihara secara harafiah berarti "tempat tinggal para brahma ." Brahma merupakan dewa-dewa yang tinggal di langit yang lebih tinggi, tinggal dalam timbunan kebajikan tak terbatas, kasih sayang/welas asih tak terbatas, sukacita empati tak terbatas, dan keseimbangan batin yang tak terbatas. Sikap-sikap tak terbatas ini dapat dikembangkan dari versi emosi yang lebih terbatas, yang kita alami di dalam hati manusia.


Dari keempat emosi, cinta kasih (metta) adalah yang paling mendasar. Ini adalah keinginan untuk kebahagiaan sejati, keinginan yang langsung dapat anda arahkan kepada diri sendiri atau orang lain. Cinta kasih adalah motivasi dasar yang menuntun Sang Buddha untuk mencari kebangkitan (spiritual) dan mengajarkan jalan menuju kebangkitan kepada orang lain setelah beliau menemukannya.

Dua emosi berikutnya ada dalam daftar merupakan penerapan dasar dari sifat Cinta kasih. Welas Asih (karuna) adalah perasaan cinta kasih ketika berjumpa dengan penderitaan: Ia menginginkan penderitaan untuk berhenti. Empati sukacita (Mudita) adalah cinta kasih ketika berjumpa dengan kebahagiaan: Ia ingin kebahagiaan untuk terus berlanjut. Keseimbangan batin (upekkha) adalah emosi yang berbeda, di dalam tindakannya Upekkha bertindak sebagai bantuan untuk dan pemeriksa tiga hal lainnya. Ketika anda menghadapi penderitaan yang tidak bisa anda dihentikan, tidak peduli seberapa kerasnya anda mencoba, anda perlu keseimbangan untuk menghindari terciptanya penderitaan tambahan dan untuk menyalurkan energi anda ke bagian-bagian di mana anda bisa memberikan bantuan. Dengan cara ini, keseimbangan batin bukanlah berhati dingin atau acuh tak acuh. Upekkha secara sederhana membuat agar cinta kasih anda lebih terfokus dan efekt if.

Membuat agar sifat – sifat ini menjadi tak terbatas membutuhkan usaha. Sangat mudah untuk merasakan cinta kasih, welas asih, dan sukacita empati untuk orang yang anda sukai dan anda cintai, namun terdapat batasan terhadap orang - orang yang tidak anda sukai - seringkali untuk alasan yang sangat baik. Demikian pula halnya, ada banyak orang dimana mereka mudah untuk merasakan perasaan batin tenang-seimbang: yaitu kepada orang yang anda tidak tahu atau yang tidak anda pedulikan. Tapi sulit untuk merasakan batin yang tenang-seimbang ketika orang-orang yang anda cintai menderita. Namun, jika anda ingin mengembangkan brahma-vihara, anda harus menyertakan semua orang dalam lingkup kesadaran anda sehingga anda dapat menerapkan sikap yang tepat tidak peduli di manapun atau kapanpun. Ini adalah di mana hati anda membutuhkan bantuan dari logika anda.

Seringkali, meditator percaya bahwa jika mereka hanya dapat menambahkan sedikit curahan perasaan, sedikit semangat emosional, ke dalam praktek brahma-vihara mereka, sikap-sikap mereka bisa menjadi tanpa batas. Tetapi jika sesuatu di dalam anda terus berputar – putar untuk memunculkan alasan untuk menyukai orang ini atau membenci yang satu itu, praktik anda mulai terkesan munafik. anda bertanya-tanya siapa yang sedang anda coba tipu. Atau, setelah sebulan mendedikasikan diri dalam latihan, anda masih menemukan diri anda berpikiran buruk tentang orang-orang yang memotong jalan anda di jalan raya – tidak berucap apapun atas keburukan yang dilakukan orang – orang yang menimbulkan kerusakan serius terhadap dunia.

Disinlah letak dimana logika perlu ikut berperan. Jika kita berpikir tentang hati sebagai sisi pikiran yang menginginkan kebahagiaan, logika adalah sisi yang mengerti bagaimana sebab dan akibat benar-benar bekerja. Jika logika dan hati Anda dapat belajar untuk bekerja sama - yaitu, jika logika Anda dapat memberikan prioritas untuk menemukan penyebab kebahagiaan sejati, dan hati Anda dapat belajar untuk meraih sebab-sebab tersebut - maka pelatihan pikiran dapat melaju lebih jauh.

Inilah mengapa Sang Buddha mengajarkan brahma-vihara dalam konteks ajaran logika: prinsip sebab-akibat sebagaimana dimainkan dalam (1) karma dan (2) proses pembuatan yang membentuk emosi dalam tubuh dan pikiran. Semakin kita bisa menempatkan logika kita diantara ajaran-ajaran ini, semakin mudah kita untuk menempatkan segenap hati kita dalam mengembangkan sikap yang benar-benar luhur. Pemahaman karma membantu untuk menjelaskan apa yang sedang kita lakukan dalam mengembangkan brahma-vihara dan mengapa kita ingin melakukannya di tempat pertama. Pemahaman tentang proses pembuatan membantu untuk menjelaskan bagaimana kita dapat membawa hati kemanusiaan kita dan mengubahnya menjadi sebuah tempat di mana Brahma dapat berdiam.

Ajaran tentang karma dimulai dengan prinsip bahwa orang mengalami kebahagiaan dan kesedihan didasarkan pada kombinasi niat mereka di masa lalu dan sekarang. Jika kita bertindak dengan niat-niat yang tidak terampil, baik untuk diri kita sendiri atau untuk orang lain, kita akan menderita. Jika kita bertindak dengan niat yang terampil, kita akan mengalami kebahagiaan. Jadi jika kita ingin bahagia, kita harus melatih niat kita untuk selalu terampil. Ini adalah alasan pertama untuk mengembangkan brahma-vihara: sehingga kita dapat membuat niat/kehendak kita ini lebih dapat dipercaya.

Beberapa orang mengatakan bahwa cinta kasih tanpa batas datang secara alami kepada kita, bahwa sifat-keBuddhaan kita secara intrinsik adalah berbelas-kasih. Tetapi Sang Buddha tidak pernah mengatakan apapun tentang sifat-keBuddhaan. Apa yang memang beliau katakan adalah bahwa pikiran ini bahkan lebih beraneka ragam daripada dunia hewan. Kita mampu melakukan apa saja. Jadi apa yang akan kita lakukan dengan kemampuan ini?

Kita dapat melakukan - dan mungkin telah melakukan - hampir semua hal, tapi satu hal yang Sang Buddha ketahui bahwa dalam benak semua makhluk pada dasarnya memiliki keinginan untuk mempergunakan kemampuan ini dan mengabdikannya untuk memperoleh kebahagiaan. Jadi pelajaran pertama karma adalah bahwa jika anda benar-benar ingin bahagia, anda tidak dapat hanya sekedar percaya bahwa jauh di lubuk hati anda merasa tahu hal – hal yang benar untuk dilakukan, karena itu hanya akan mendorong kita untuk mudah merasa puas diri. Niat tidak terampil akan mengambil alih dan anda bahkan tidak akan pernah menyadari hal itu. Sebaliknya, anda harus waspada untuk mengenali niat tidak terampil itu, seperti apa bentuk mereka, dan bertindak hanya berpegang pada niat yang terampil. Cara untuk memastikan bahwa anda tetap waspada adalah dengan membawa keinginan anda akan kebahagiaan dan membagikannya kepada sekitar anda.

Pelajaran kedua dari karma adalah bahwa anda adalah arsitek utama kebahagiaan dan penderitaan anda sendiri, orang lain adalah arsitek utama dari kebahagian dan penderitaan mereka sendiri. Jika anda benar-benar ingin mereka bahagia, anda jangan hanya sekedar memperlakukan mereka dengan baik. anda juga ingin mereka belajar bagaimana mereka menciptakan penyebab kebahagiaan. Jika anda bisa, anda ingin menunjukkan kepada mereka bagaimana untuk melakukan itu. Inilah sebabnya mengapa pemberian Dhamma – pelajaran mengenai bagaimana untuk menimbulkan kebahagiaan sejati – adalah hadiah terbaik.

Contoh paling terkenal dari Sang Buddha tentang bagaimana mengekspresikan cinta kasih tak terbatas, Beliau tidak hanya mengungkapkan harapan berikut untuk kebahagiaan universal:
Bahagia, saat tenang,
semoga semua makhluk berbahagia di hati.
makhluk hidup apapun yang ada;
yang goyah dan yang kokoh tanpa kecuali,
yang panjang ataupun yang besar,
yang sedang, yang pendek,
kecil, kurus atau pun yang gemuk,
yang tampak atau pun tak tampak,
yang dekat dan yang jauh ,
yang telah terlahir atau yang akan terlahir,
semoga semua makhluk berbahagia di hati.

Beliau segera menambahkan sebuah harapan dimana semua makhluk menghindari penyebab yang akan membawa mereka kepada ketidakbahagiaan:

Janganlah seseorang menipu orang lain,
atau menghina siapapun dimanapun,
atau melalui kemarahan atau kejengkelan
mengharapkan orang lain agar menderita.

- Sn 1,8

Jadi jika anda menggunakan visualisasi sebagai bagian dari praktek cinta kasih anda, jangan hanya memvisualisasikan orang yang tersenyum, dikelilingi oleh kekayaan dan kenikmatan sensual. Visualisasikan mereka bertindak, berbicara, dan berpikir dengan terampil. Jika saat ini mereka bertindak dengan niat yang tidak terampil, visualisasikan mereka mengubah cara mereka. Kemudian bertindaklah untuk mewujudkan visualisasi tersebut jika anda bisa.

Sebuah prinsip yang sama berlaku untuk rasa welas asih dan rasa bahagia akan kebahagian orang lain . Belajar untuk berbelas-kasih tidak hanya untuk orang yang sudah menderita, tetapi juga bagi mereka yang terlibat dalam tindakan tidak terampil yang akan mengakibatkan penderitaan di masa depan. Ini berarti, jika memungkinkan, cobalah untuk menghentikan mereka dari melakukan hal-hal buruk. Dan belajar untuk merasakan empati sukacita tidak hanya pada mereka yang sudah berbahagia, tetapi juga bagi mereka yang tindakannya akan mengarah pada kebahagiaan di masa yang akan datang. Jika anda memiliki kesempatan, berikanlah mereka dorongan.

Namun anda juga harus menyadari bahwa tidak peduli seberapa tak terbatasnya lingkup emosi positif ini, efeknya akan terganjal pada batasan-batasan. Dengan kata lain, terlepas dari seberapa besar cinta kasih atau belas kasihan anda, terdapat orang – orang yang terikat oleh tindakan lampaunya yang tidak terampil dan tidak dapat atau tidak akan mengubah cara mereka di masa sekarang. Inilah mengapa anda membutuhkan keseimbangan batin untuk memeriksa realitas. Bila anda menemukan daerah di mana anda tidak bisa membantu, anda belajar untuk tidak marah/kecewa. Pikirkan tentang universalitas dari prinsip karma: karma berlaku untuk semua orang terlepas dari apakah Anda menyukainya atau tidak. Hal ini menempatkan Anda dalam posisi di mana Anda dapat melihat lebih jelas apa yang bisa diubah, di mana Anda dapat membantu. Dengan kata lain, keseimbangan batin bukanlah sarana untuk pasrah dan menerima segala sesuatu sebagaimana adanya. Ini adalah alat untuk membantu Anda untuk mengembangkan kearifan tentang penderitaan mana yang Anda harus dapat terima dan mana yang tidak.

Misalnya, seseorang dalam keluarga Anda mungkin menderita penyakit Alzheimer. Jika Anda marah tentang fakta penyakit tersebut, Anda membatasi kemampuan Anda untuk dapat benar-benar membantu. Agar lebih efektif, Anda harus menggunakan keseimbangan batin sebagai sarana melepaskan apa yang ingin Anda ubah dan lebih berfokus pada apa yang bisa diubah di masa sekarang.

Pelajaran ketiga dari prinsip karma adalah bahwa mengembangkan brahma-vihara juga dapat membantu mengurangi hasil dari tindakan masa lalu Anda yang buruk. Sang Buddha menjelaskan hal ini dengan sebuah analogi: Jika Anda menempatkan gumpalan garam ke dalam segelas air, Anda tidak bisa minum air di gelas. Tetapi jika Anda menempatkan segumpal garam tersebut di sungai, maka Anda bisa minum air di sungai, karena sungai berisi air jauh lebih banyak dari garam. Ketika Anda mengembangkan keempat sifat brahma vihara-, pikiran Anda seperti sungai. Karma terampil dalam mengembangkan sikap-sikap ini di masa sekarang adalah begitu luas bahwa apapun hasil dari tindakan buruk masa lalu mungkin timbul, Anda hampir tidak menyadarinya.

Sebuah pemahaman yang tepat tentang karma juga membantu untuk memperbaiki pandangan salah bahwa jika orang menderita adalah karena mereka layak untuk menderita, sehingga Anda mungkin hanya akan meninggalkan mereka sendirian. Ketika Anda mendapati diri Anda berpikir dengan cara – cara tersebut, Anda harus tetap menjaga empat prinsip dalam pikiran.

Pertama, ingat bahwa ketika Anda melihat orang, Anda tidak dapat melihat semua benih karma dari tindakan masa lalu mereka. Mereka mungkin sedang mengalami hasil dari tindakan buruk masa lalu, tetapi Anda tidak tahu kapan bibit tersebut akan berhenti bertunas. Juga, Anda tidak tahu bibit lain yang apa, potensi laten apapun yang sangat bagus, yang akan bertunas di tempat itu.

Ada pepatah di beberapa kalangan Buddhis bahwa jika Anda ingin melihat tindakan masa lalu seseorang, lihatlah pada kondisinya sekarang, jika Anda ingin melihat kondisi masa depannya, lihatlah tindakannya pada saat ini. Tetapi, prinsip ini bagaimanapun dilandaskan pada dasar persepsi yang tidak tepat: bahwa masing-masing kita hanya memiliki sebuah rekening karma tunggal, dan apa yang kita lihat pada saat ini adalah perputaran neraca dalam rekening masing-masing orang . Sebenarnya, tidak ada dalam sejarah karma seorangpun yang memiliki rekening tunggal. Karma ini terdiri dari berbagai benih yang berbeda yang ditanam di banyak tempat melalui berbagai macam tindakan berbeda yang telah kita lakukan di masa lalu, masing-masing benih masak dalam jangka waktunya masing - masing. Beberapa dari benih telah tumbuh dan lenyap, beberapa sedang tumbuh sekarang, beberapa akan tumbuh di masa depan. Ini berarti bahwa kondisi ini seseorang hanya mencerminkan sebagian kecil dari tindakan masa lalunya. Sedangkan untuk bibit - bibit lainnya, Anda tidak dapat melihatnya sama sekali.

Refleksi ini akan membantu Anda ketika mengembangkan sifat welas-asih, hal itu mengingatkan Anda bahwa Anda tidak akan pernah tahu ketika kemungkinan sewaktu membantu seseorang dapat menimbulkan pengaruh. Benih-benih tindakan buruk masa lalu orang lain dapat berbunga sekarang, tapi mereka bisa lenyap setiap saat. Anda mungkin kebetulan orang yang ada di sana untuk membantu ketika orang tersebut siap menerima bantuan.

Pola yang sama berlaku untuk sukacita empati. Misalkan tetangga Anda lebih kaya daripada Anda. Anda mungkin menolak perasaan sukacita empati baginya karena Anda berpikir, "Dia sudah kaya, sementara aku masih berjuang. Mengapa saya harus berharap dia akan lebih bahagia lagi?." Jika Anda menemukan diri Anda berpikir dengan cara – cara tersebut, mengingatkan diri Anda bahwa Anda tidak tahu bagaimana benih karma yang Anda miliki, Anda tidak tahu bagaimanakah benih karma yang dia miliki. Mungkin saja benih karma baiknya hampir mati. Apakah Anda ingin benih karma baiknya hilang lebih cepat? Apakah kebahagiaannya telah mengurangi kebahagiaan Anda? Sikap macam apakah itu? Ini berguna untuk berpikir dengan cara seperti ini.

Prinsip kedua yang perlu diingat adalah bahwa, dalam ajaran Buddha, tidak ada pertanyaan tentang layak dan tidaknya seseorang mendapatkan kebahagiaan ataupun penderitaan. Sang Buddha hanya mengatakan bahwa ada tindakan yang mengarah kepada kebahagiaan dan ada tindakan yang menimbulkan penderitaan. Karma tidaklah membedakan orang, secara sederhana kamma adalah hal yang berkenaan pada perbuatan dan akibatnya. Orang baik mungkin memiliki beberapa tindakan buruk yang terkumpul jauh di masa lalu mereka. Orang-orang yang tampaknya menyebalkan mungkin telah melakukan beberapa hal baik. Anda tidak pernah tahu. Jadi tidak akan ada lagi pertanyaan tentang layak atau tidak layaknya seseorang mendapatkan kebahagiaan atau penderitaan. Yang ada hanyalah sebuah prinsip dimana perbuatan menimbulkan akibat dan pengalaman saat ini yang anda alami seperti kebahagiaan maupun penderitaan merupakan hasil kombinasi hasil perbuatan di masa lalu dan sekarang. Anda mungkin memiliki beberapa tindakan yang sangat tidak terampil di masa lalu Anda, tetapi jika Anda belajar untuk berpikir terampil ketika tindakan-tindakan berbuah di masa sekarang, Anda tidak harus menderita.

Prinsip ketiga berlaku untuk pertanyaan apakah orang yang menderita "layak" mendapatkan kasih sayang Anda. Terkadang anda mendengar bahwa semua orang berhak mendapatkan kasih sayang Anda karena mereka semua memiliki sifat-Buddha. Tapi hal ini mengabaikan alasan utama untuk mengembangkan belas kasih sebagai Brahma-vihara di tempat pertama dimana Anda perlu mengembangkan belas kasih universal sehingga Anda dapat mempercayai niat Anda sendiri. Jika Anda menganggap kasih sayang Anda begitu berharganya sehingga hanya Buddha saja yang layak mendapatkannya, Anda tidak akan dapat mempercayai dirimu sendiri ketika menghadapi orang yang secara konsisten selalu berbuat jahat.

Pada saat yang sama, Anda harus ingat bahwa tidak ada manusia memiliki karma lampau yang benar-benar murni, sehingga Anda tidak dapat membuat kemurnian seseorang sebagai dasar kasih sayang Anda. Beberapa orang menolak gagasan bahwa, anak-anak yang lahir di daerah yang sedang berperang, yang menderita dari kebrutalan dan kelaparan, mereka disana karena alasan karma. Tampaknya tak berperasaan, mereka berkata, untuk mengaitkan penderitaan ini dengan karma dari kehidupan lampau. Yang tidak berperasaan disini adalah desakan bahwa seorang yang layak mendapat belas kasih hanya jika mereka bebas dari segala perilaku salah. Ingatlah bahwa Anda tidak harus menyukai atau mengagumi seseorang untuk menunjukkan belas kasih kepada orang tersebut. Yang harus Anda lakukan adalah mengharapkan agar orang tersebut berbahagia. Semakin Anda dapat mengembangkan sikap ini terhadap orang yang Anda tahu memiliki perilaku tidak baik, semakin Anda akan dapat mempercayai niat Anda dalam situasi apapun.

Sang Buddha menggambarkan hal ini dengan analogi grafis: Bahkan jika bandit menyerang Anda dan mengergaji anggota badan Anda dengan gergaji bermata dua, Anda harus merasakan cinta kasih dimulai dari mereka dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Jika Anda terus menjaga kesadaran seperti ini dalam pikiran, hal ini membantu untuk melindungi Anda dari bertindak dengan cara yang tidak terampil, tidak peduli seberapa buruk anda diprovokasi.

Prinsip keempat untuk diingat adalah berkenaan pada karma yang Anda buat sekarang sebagai reaksi terhadap kebahagiaan dan rasa sakit orang lain. Jika Anda benci akan kebahagiaan orang lain, suatu hari ketika Anda bahagia akan ada seseorang yang juga membenci Anda. Apakah Anda inginkan itu? Atau jika Anda keras hati terhadap orang yang sedang menderita sekarang, suatu hari nanti Anda mungkin menghadapi jenis penderitaan yang sama. Apakah Anda ingin orang menjadi keras hati terhadap Anda? Selalu ingat bahwa reaksi Anda adalah bentuk karma, jadi selalu penuh kesadaran untuk menciptakan jenis karma yang memberikan hasil yang Anda ingin lihat.

Ketika Anda berpikir dengan cara ini Anda melihat bahwa hal ini benar-benar merupakan keinginan Anda untuk mengembangkan brahma-vihara dalam segala situasi. Jadi pertanyaannya adalah, bagaimana Anda melakukannya? Di sinilah aspek lain dari ajaran Buddha tentang sebab-akibat memainkan perannya: ajaran Buddha tentang pembuatan, atau cara Anda membentuk pengalaman Anda.

Fabrikasi dari tiga macam hal: fisik, verbal, dan mental. Fabrikasi tubuh adalah cara Anda bernapas. Fabrikasi verbal merupakan komentar pikiran dan mental terhadap suatu hal - ucapan internal Anda. Dalam bahasa Pali, pikiran dan komentar itu disebut sebagai vitakka – pikiran yang diarahkan, dan vicara, evaluasi. Fabrikasi mental antara lain: persepsi dan perasaan: label mental yang Anda berikan kepada sesuatu benda, dan perasaan senang, sakit, atau bukan perasaan tidak senang maupun rasa sakit yang Anda rasakan terhadap mereka.

Segala nafsu keinginan atau emosi terdiri dari tiga jenis fabrikasi. Dimulai dengan pikiran dan persepsi, dan kemudian masuk ke dalam tubuh Anda melalui cara Anda bernapas. Inilah mengapa emosi tampak begitu nyata, begitu bertubi - tubi, sehingga tampak seperti "Anda" yang sejati. Tapi seperti yang Sang Buddha sampaikan, Anda mengidentifikasi dengan hal-hal ini karena Anda membungkus mereka dalam ketidaktahuan: Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan, dan Anda menderita sebagai hasilnya. Tapi jika Anda dapat membungkus emosi Anda dengan pengetahuan, mereka dapat membentuk jalan menuju akhir dari penderitaan. Dan nafas adalah tempat yang baik untuk memulai.

Jika, misalnya, Anda merasa marah terhadap seseorang, tanyakan pada diri sendiri, "Bagaimana aku bernapas sekarang ? Bagaimana saya bisa mengubah cara saya bernapas sehingga tubuh saya dapat merasa lebih nyaman?" Kemarahan sering menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam tubuh, dan Anda merasa Anda harus segera menyingkirkannya. Cara umum menyingkirkan hal itu ada dua, dan keduanya merupakan cara yang tidak terampil: baik dengan cara memendamnya dalam - dalam, atau Anda mencoba untuk mengeluarkannya dari sistem anda dengan cara membiarkan hal itu keluar dalam bentuk kata-kata dan perbuatan.

Jadi Sang Buddha memberikan yang ketiga, sebuah alternatif yang lebih terampil: Bernapas melalui ketidaknyamanan Anda dan larutkan. Biarkanlah nafas menciptakan perasaan fisik kemudahan dan kepenuhan, dan memungkinkan perasaan tersebut memenuhi seluruh tubuh Anda. Kenyamanan fisik seperti ini juga dapat membantu pikiran menjadi tenang juga. Ketika sedang dalam kenyamanan tersebut, akan memudahkan untuk membuat persepsi terampil saat Anda mengevaluasi respon Anda terhadap masalah yang Anda hadapi.

Berikut analogi gumpalan garam adalah persepsi penting untuk diingat, karena hal tersebut mengingatkan Anda untuk melihat situasi dalam yang Anda butuhkan untuk kebaikan Anda sendiri untuk melindungi diri dari karma buruk. Bagian dari perlindungan ini adalah untuk mencari sisi yang baik dari orang - orang yang membuat Anda marah. Dan untuk membantu dengan persepsi ini, Sang Buddha memberikan analogi yang lebih grafis untuk mengingatkan Anda mengapa pendekatan ini tidaklah sentimentalitas belaka: Jika Anda melihat seseorang yang sudah berlaku buruk kepada Anda dalam kata-kata dan perbuatan, tetapi memiliki saat-saat jujur dan memiliki niat baik, itu seolah-olah Anda berjalan melalui padang pasir - panas, gemetar, haus - dan Anda menemukan jejak sapi dengan sedikit air di dalamnya. Sekarang apa yang Anda lakukan? Anda tidak dapat meraup air dengan tangan Anda karena itu akan menjadikan berlumpur. Sebaliknya Anda justru menurunkan tangan dan lutut Anda, dan sangat hati-hati menyedotnya.

Perhatikan posisi Anda dalam gambar ini. Ini mungkin tampak merendahkan dengan memposisikan mulut Anda ke tanah seperti ini, tapi ingat: Anda gemetar karena rasa haus. Anda membutuhkan air. Jika Anda fokus hanya pada sisi buruk orang lain, Anda akan merasa makin tertindas oleh rasa panas dan rasa haus. Anda akan mendapatkan pahit tentang kehidupan umat manusia dan tidak melihat perlunya untuk menjalani kehidupan dengan baik. Tapi jika Anda dapat melihat sisi yang baik pada orang lain, Anda akan menemukan lebih mudah untuk memperlakukan mereka dengan cara terampil. Sisi baik dari mereka seperti air untuk hati Anda. Anda perlu fokus pada mereka untuk memelihara kebaikan Anda sendiri sekarang dan di masa yang akan datang.

Namun, jika orang yang membuat Anda marah tidak memiliki kualitas yang baik sama sekali, maka Sang Buddha merekomendasikan persepsi lain: Pikirkan orang itu sebagai orang asing sedang sakit yang telah Anda ditemukan di sisi jalan, jauh dari bala bantuan. Anda harus merasa kasihan dan melakukan apapun yang Anda bisa lakukan agar membuatnya kedalam kondisi aman yaitu dengan pikiran yang terampil, kata-kata, dan perbuatan.

Apa yang Anda lakukan di sini adalah dengan menggunakan fabrikasi lisan yang terampil - memikirkan dan mengevaluasi napas - untuk mengubah napas menjadi fabrikasi tubuh yang terampil. Hal ini pada gilirannya menciptakan fabrikasi mental yang sehat - perasaan tentram - yang membuatnya lebih mudah untuk membentuk persepsi mental yang dapat menghancurkan reaksi tidak terampil dan membangun emosi terampil di tempatnya.

Ini adalah bagaimana kita menggunakan pengetahuan kita tentang karma dan fabrikasi untuk membentuk emosi kita ke arah yang kita inginkan – inilah alasan mengapa ajaran-ajaran logika diperlukan bahkan untuk urusan hati. Pada saat yang sama, karena kita sudah peka diri akan peran yang dimainkan oleh napas dalam membentuk emosi, kita dapat membuat perubahan sejati dalam bagaimana kita secara fisik merasakan tentang hal ini. Kita tidak hanya sekadar bermain untuk percaya. Perubahan dalam hati kita menjadi sepenuhnya terwujud, benar-benar dirasakan.

Ini membantu melemahkan perasaan kemunafikan yang terkadang dapat menyelimuti praktek brahma vihara-. Alih-alih menyangkal perasaan asli kita yaitu marah atau tertekan dalam situasi tertentu, melembutkan mereka dengan bongkahan permen kapas atau krim marshmallow, kita benar-benar menjadi lebih erat dalam berhubungan dengan mereka dan belajar untuk terampil membentuk mereka kembali.

Terlalu sering kita berpikir bahwa untuk berhubungan dengan emosi kita adalah suatu cara melihat siapa kita sebenarnya - bahwa kita telah tercerai dari sifat alami kita, dan dengan berhubungan kembali dengan emosi kita, maka kita akan terhubung kembali dengan identitas kita yang sebenarnya. Tetapi emosi Anda bukanlah sifat sejati Anda, mereka sama dibuat seperti yang lainnya. Karena mereka dibuat, masalah yang sebenarnya adalah belajar bagaimana untuk membuat mereka dengan terampil, sehingga mereka tidak menyebabkan masalah dan sebaliknya dapat menyebabkan kebahagiaan yang terpercaya.

Ingat bahwa emosi adalah penyebab Anda untuk bertindak. Jalan mereka menuntun pada karma baik atau buruk. Ketika Anda melihat mereka sebagai jalan, Anda dapat mengubah mereka ke jalan yang dapat Anda percaya. Ketika Anda belajar bagaimana untuk menghancurkan emosi akan keinginan jahat, keras hati, kebencian, dan kesusahan, dan merekonstruksi brahma-vihara di tempatnya, Anda tidak hanya sekedar mencapai hati yang tanpa batas. Anda mendapatkan praktek dalam menguasai proses fabrikasi. Seperti yang Sang Buddha katakan, penguasaan yang membawa pada konsentrasi dengan kondisi pikiran yang sangat bahagia. Dari situ hal ini dapat membuat semua faktor dari jalan yang mengarah pada tujuan dari semua ajaran Sang Buddha, baik untuk logika atau untuk hati: kebahagiaan total nibbana, sungguh merupakan kebenaran tanpa syarat.

Dimana secara sederhana menunjukkan bahwa jika Anda membuat logika dan hati Anda untuk saling menghormati, mereka dapat membawa satu sama lain untuk melangkah lebih jauh. Hati Anda membutuhkan bantuan dari logika untuk menghasilkan dan bertindak dalam emosi yang lebih terampil. Logika Anda perlu hati Anda untuk mengingatkan Anda bahwa apa yang benar-benar penting dalam hidup adalah untuk mengakhiri penderitaan. Ketika mereka belajar bagaimana bekerja sama, mereka dapat membuat pikiran manusia Anda menjadi pikiran Brahma yang tak terbatas. Lebih dari itu, Mereka dapat menguasai penyebab kebahagiaan ke titik di mana mereka dapat melebihi diri mereka sendiri, menyentuh dimensi tak bersebab dimana logika tidak dapat mencakupnya, dan sebuah kebahagiaan begitu nyata dimana hati kita tidak memerlukan lagi adanya nafsu keinginan.

Diterjemahkan oleh : Demmy Sutjipto
Editor : Laurensius Widyanto
Sumber : “Head & Heart Together: Bringing Wisdom to the Brahma-viharas”, by Thanissaro Bhikkhu. Acces to Insight, 17 April 2011,
http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/thanissaro/headandheart.html . Retrieved on 26 October 2011.

 

Buku SMB

coversmb

Dapatkan ebook untuk Sekolah Minggu Buddhis. Ukuran file 51 Mb.