Sebuah Pandangan pada Kalama Sutta

Sebuah Pandangan pada Kalama Sutta
A Look at the Kalama Sutta

 

Penterjemah : Cittasudhammo Demmy Sutjipto
Editor : Mettavijjo Laurensius W
Sumber :  "A Look at the Kalama Sutta", by Bhikkhu Bodhi. Access to Insight (Legacy Edition), 5 June 2010, 

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/bodhi/bps-essay_09.html


Dalam terbitan artikel ini kami mengkombinasikan antara risalah dengan kolom Studi Sutta sambil melihat kembali sebuah Khotbah Buddha yang sering dikutip, yaitu Kalama Sutta. Khotbah tersebut – (dapat dilihat terjemahannya pada http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/soma/wheel008.html)- yang telah digambarkan sebagai “Piagam Buddha akan Kebebasan untuk Penyelidikan”,

Read more...

Kebersamaan Logika dan Hati Membawa Kebijaksanaan pada Brahma-vihara

Kebersamaan Logika dan Hati Membawa Kebijaksanaan pada Brahma-vihara
oleh : Bhikkhu Thanissaro
© 2009-2011

Brahma-vihara , atau "sikap luhur," adalah jantung utama ajaran utama Buddha – salah satu yang menghubungkan langsung terutama dengan keinginan kita akan kebahagiaan sejati. Istilah brahma-vihara secara harafiah berarti "tempat tinggal para brahma ." Brahma merupakan dewa-dewa yang tinggal di langit yang lebih tinggi, tinggal dalam timbunan kebajikan tak terbatas, kasih sayang/welas asih tak terbatas, sukacita empati tak terbatas, dan keseimbangan batin yang tak terbatas. Sikap-sikap tak terbatas ini dapat dikembangkan dari versi emosi yang lebih terbatas, yang kita alami di dalam hati manusia.

Read more...

Bahasa Cinta

Bahasa Cinta Setiap orang memiliki bahasa cinta yang berbeda beda, Menurut Gary Chapman bahasa cinta ada 5 dan biasanya menurut saya orang memiliki 2 atau 1 tergantung dari orang tersebut. Didalam dunia therapis ini dikatakan tangki cinta apabila tangki cinta ini terpenuhi maka anak-anak atau ayah,ibu or istri, suami tidak mencari cinta yang lain yaitu istilahnya kasarnya cinta murahan/selingkuhan.

Nah apa aja 5 tangki cinta itu

1. Kata-kata pendukung
Kata-kata pendukung kalian semua pasti sudah tahuu yang sifatnya memberikan dukungan serta motivasi kepada orang, biasanya memberikan motivasi, contoh 'kamu pasti bisa, itu tidak sulit kok, dsb pokoknya berupa kata-kata yang memberikan semangat.

2. Waktu berkualitas
Waktu berkualitas adalah menyediakan waktu untuk orang yang dicintai. Yang dimaksud disini bukan hanya lawan jenis tetapi kesediaan kita mau menemanin seseorang entah itu menenami berbelanja atau makan bersama, kumpul-kumpul bareng share dhamma.

3. Pelayanan
Pelayanan yang dimaksud disini saya ambil contoh seorang istri memperhatikan suaminya dalam hal makan atau ambilkan minuman atau sang suami membantu istri membuang sampah atau pacar kalian angkat barang belanjaan, membukakan pintu dsb.

4. Sentuhan
Sentuhan ini memang harus berhati-hati apa lagi kalau masih pacaran, bagi orang yang memiliki bahasa cinta, dia dapat memberikan sentuhan pada dia entah itu berupa pelukan ,menatap matanya, memegang tangannya dengan tujuan memberikan rasa aman kepada mereka.

5. Hadiah
Nah ada orang happy banget dikasih hadiah,entah itu bunga,makanan kesukaannya pokoknya berupa suatu barang, walau tidak harus mahal tapi sesuatu yang sangat disukainya.

Kelima bahasa cinta berlaku umum bisa digunakan untuk anak-anak,orang tua kita untuk siapapun termasuk kepada pasangan hidup bahkan yang sedang mabuk cinta. Apabila tangki cinta ini tidak terpenuhi maka mereka akan bersikap aneh seperti sikap terlalu posesif kepada pacar, terlibat narkoba karena ingin mendapat perhatian dari orang tuannya.

Mari kita bandingkan dengan apa yang dikatakan oleh Buddha tentang bahasa cinta ini.

Hatthaka dari Alavi adalah siswa berkeluarga yang istimewa dalam hal menjalin komunikasi dengan orang lain. Percakapan beliau dengan Buddha tercatat dalam AN 3.35. Buddha juga menyatakan beliau sebagai percontohan (role model) untuk siswa berkeluarga antar lain di AN 2.132 dan AN 4.176. Di samping itu, Buddha memuji beliau di AN 8.23 dan 8.24. Beliau juga berhasil meraih tingkat kesucian Anagami.


Di AN 4.32, Buddha mengajarkan tentang 4 cara memiliki hubungan yang baik (attracting and sustaining others/bonds of fellowship)
Empat itu adalah kemurahan hati, ucapan yang baik, dukungan/bantuan (yang bermanfaat), dan konsisten (tdk berat sebelah)
Thd ajaran Buddha di AN 4.32 ini, Hatthaka adalah siswa berkeluarga yang plg istimewa. Hal ini tercatat dalam AN 1.251. Lebih jelas lg di AN 8.24, saat Buddha menanyakan "Pengikutmu banyak Hatthaka. Bagaimana kamu bs memperoleh begitu banyak pengikut?"


Hatthaka menjawab (kira2 bgini) "Hamba dapat punya banyak pengikut karena memiliki 4 dasar ikatan/hubungan (sanggahavatthu) yang diajarkan Bhagava. Saat aku memahami bahwa seseorang dapat didekati dengan pemberian, maka kuberikan dia sesuatu. Saat aku memahami bahwa seseorang dapat didekati dengan ucapan yang baik, maka kuberikan dia ucapan yang baik. Saat aku memahami bahwa seseorang dapat didekati dengan dibantu/didukung, maka kubantu/kudukung dia. Saat aku memahami bahwa seseorang dapat didekati dengan konsistensi, maka kuperlakukan dia dengan konsisten (senang susah bersama, tdk berat sebelah-hny saat senang saja). Konsisten juga mungkin berarti "sama di depan maupun belakang".
Selesai itu, Buddha kembali memuji Hatthaka. Setelah Hatthaka berlalu, Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu bahwa Hatthaka harus diteladani sebagai orang yang memiliki 8 kualitas istimewa.

Kesimpulan

Guru Agung kita menyimpulkan bahasa cinta nya ada 4 yaitu:

1. Pemberian

2. Ucapan

3. Pertolonga /pelayanan

4. Kosistensi


Gary Chapman ada 5 yaitu.

1. Kata-kata pendukung

2. Pelayanan

3. Waktu berkualitas

4. Sentuhan

5. Hadiah


Apabila kita korelasikan dengan Dhamma dengan teori Gary Chapman yang menambahkan pada sentuhan,bisa disimpulkan demikian:
- Pemberian dikorelasikan dengan hadiah
- Ucapan dikorelasikan dengan kata2 pendukung
- Pertolongan atau pelayanan dikorelasikan dengan pelayanan
- Kosistensi dikorelasikan dengan waktu brkualitas

Apabila semua hal yang dijelaskan oleh Sang Buddha dilakukan niscaya kita memiliki kualitas diri dan bahasa cinta yang baik.

KMD ini dilakukan pada tanggal 27 Mei 2013 dengan 
Pembawa materi:
1. Erlin Sulisthio
2. Laurens Kwo
3. Paulus Liem


Editing: Benny Pangadian  

Uposatha dan Atthasila

Seseorang tidak sepatutnya membunuh makhluk lain atau mengambil barang yang tidak diberikan;

Ia seharusnya tidak mengucapkan kebohongan atau menjadi peminum dari minuman keras;

Ia seharusnya berpantang dari hubungan sexual;

Ia seharusnya tidak makan di malam hari, di waktu yang tidak tepat;

Ia seharusnya tidak mengenakan kalung bunga atau wewangian;

Ia seharusnya tidur di kasur jerami, tikar sederhana yg terbentang di lantai  —

karena inilah delapan faktor dari Uposatha

yang telah dinyatakan oleh Yang Terbangkitkan

Menuju pada akhir dari penderitaan dan ketegangan.

 

Bulan & matahari, keduanya indah untuk dilihat,

Memancarkan cahaya kemanapun mereka pergi,

& mencerai-beraikan kegelapan kemanapun mereka bergerak di angkasa,

Mencerahkan angkasa, menerangi ruang-ruang.

  Dalam jangkauannya ditemukan kekayaan:

          mutiara, kristal, permata pirus,

          batu keberuntungan, platinum, emas murni,

          & emas yang dimurnikan yang disebut 'Hataka.'

          Meskipun demikian — semua ini seperti sinar dari semua bintang ketika dibandingkan dengan bulan —

tidaklah sepadan bahkan seperenambelasnya dibandingkan dengan delapan faktor Uposatha.

 

Jadi siapapun — laki-laki atau perempuan —

yg dilengkapi dgn kebajikan-kebajikan dr delapan faktor Uposatha ini,

telah melakukan perbuatan bermanfaat, menghasilkan kebahagiaan,

melampaui celaan, menuju pada kondisi surgawi

- Muluposatha Sutta: Akar-akar dari Uposatha, Anguttara Nikaya 3.70 -

 

Uposatha atau dalam bahasa Sansekerta Upavasatha adalah hari yg penting dalam tradisi Buddhis. Hari Uposatha adalah hari dimana umat perumah tangga menjalankan praktik Atthasila (menjalankan delapan sila) dan para Bhikkhu akan mengulang Patimokha (aturan-aturan kebhikkhuan/vinaya).

Upavasatha juga dikatakan merupakan akar kata dari puasa dalam bahasa Indonesia yang berasal dari kata 'upavāsa' (baca: upawaasa) atau upavassa' (baca : upawassa) yang terdiri dari kata upa = dekat/mendekat; vāsa atau vassa = berdiam/tinggal.

Hari uposatha mengacu pada penanggalan bulan gelap dan bulan terang.

Hari itu digunakan sebagai acuan bagi umat perumah-tangga untuk masuk ke dalam praktik memegang 8 aturan moralitas (Attha= delapan ; sila: moralitas).

Berikut ini adalah 8 aturan moral yg dilaksanakan oleh umat perumah-tangga atau upasaka dan upasika:

1. Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.

 2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan.

3. Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan tidak suci.

4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar.

 5. Suramerayamajja pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari minuman memabukkan hasil penyulingan atau peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran.

6. Vikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari.

7. Nacca-gita-vadita-visukkadassana mala-gandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanathana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukkan, memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan untuk mempercantik tubuh

8. Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad untuk melatih diri menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah).

Apa perbedaan dengan Pancasila yang selama ini kita kenal? Pancasila merupakan aturan moral dasar/kebiasaan baik (pakati sila) yg wajib dipegang teguh oleh seorang Upasaka/upasika. Sedangkan jika kita lihat pada Atthasila terdapat 3 aturan tambahan dan ada perubahan pada sila ketiga yaitu:Kamesumicchacara menjadi Abrahmacariya.

Abrahmacariya mengacu pada absensi dari melakukan hubungan sexual secara total. Sedangkan pada Pancasila masih memperbolehkan terjadinya hubungan sexual selama dengan pasangan sah masing-masing.

Lalu pdVikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami: 

Aku bertekad melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari. Maksudnya adalah tidak makan setelah lewat dari siang hari, dan hanya diperbolehkan untuk minum minuman seperti madu, air gula, jus (dgn catatan buahnya tidak boleh lebih besar dari satu kepalan tangan), khusus untuk susu tidak diperkenankan diminum setelah lewat dari tengah hari. Kita hanya boleh makan lagi pada esok hari, subuh ketika matahari mulai terbit, jadi bukan setelah lewat jam 12 malam.

Mengenai sila ke 7 dan 8, plus sila sebelumnya yaiitu sila ke 6 sebenarnya jika kita perhatikan tambahan tiga sila ini mengatur pada apa yang kita rasakan, dengar, lihat, cium, sentuh. Inilah mengapa Atthasila juga disebut sebagai Indriya-samvara sila atau latihan pengendalian pintu Indera. Atthasila merupakan sebuah upaya dimana seseorang meraih kendali atas inderanya. Pada umumnya manusialah yang dikendalikan oleh keinginan-keinginan dari nafsu-nafsu indera yg terus meminta dan menagih tanpa ada batas akhirnya sehingga inilah yang membuat seseorang terbutakan oleh keinginan dan kehilangan kebijaksanaan.

Sila merupakan faktor dari latihan (sikkhapada) dan fondasi dari pengembangan batin atau meditasi, tanpa sila yang kokoh maka sangat sulit bagi kita untuk mengembangkan kemampuan batin kita. Fungsi dari sila itu sendiri adalah untuk membersihkan perbuatan, dengan aturan latihan dan penahanan diri sesuai dengan aturan moralitas yang dipegang.

Sila merupakan dasar perlindungan sejati seseorang dan merupakan jalan untuk merubah diri kita dengan mengembangkan disiplin moral. Prinsip Sila adalah hiri: rasa malu berbuat jahat danotappa: rasa takut akan akibat dari perbuatan jahat. Atau ada juga prinsip yang disebut sebagai attanam upamam katva  yg berarti:

“Dengan mempertimbangkan diri sendiri sama seperti orang lain dan orang lain sama seperti dirinya sendiri.

Dalam hal ini seorang pengikut yang mulia bercermin:

'Disinilah aku, sangat mencintai kehidupanku, tidak ingin untuk mati, sangat mencintai kesenangan dan menolak rasa sakit.

Seandainya seseorang harus menghilangkan kehidupanku, hal ini tidak akan menjadi hal yang menyenangkan dan menggembirakan bagiku.

Jika aku, pada giliranku, harus menghilangkan kehidupan orang lain, kehidupan yang sangat dicintai oleh orang itu, tidak menginginkan untuk mati, orang lain sangat mencintai kesenangan dan menolak rasa sakit, hal itu tidak akan menjadi hal yang menyenangkan dan menggembirakan baginya.

Bagi kondisi yang tidak menyenangkan atau menggembirakan bagiku haruslah tidak menyenangkan dan menggembirakan bagi yang lainnya: dan kondisi tidak menyenangkan bagiku, bagaimana bisa aku menimbulkan hal itu pada orang lain?'

Sebagai hasil dari perenungan yang demikian, ia sendiri berpantang dari mengambil kehidupan makhluk-makhluk dan ia mendorong orang lain juga untuk berpantang, dan berbicara dalam pujian mengenai berpantang.

Samyuttanikaya, 55, No. 7

Lebih lanjut dalam Maha parinibbana Sutta – Digha Nikaya, Sang Buddha membabarkan mengenai manfaat dari Sila:

-          Melalu kewaspadaan terus-menerus dalam dirinya , ia memperoleh banyak kekayaan

-          Reputasi yang baik karena perbuatan yang terkendali akibat praktik dari sila.

-          Perkumpulan apapun yg ia masuki baik Brahmana, Khattiya, perumah-tangga ataupun petapa, ia memasukinya dgn penuh percaya diri & ketenangan

-          Ia meninggal dengan tenang dan tidak bingung

-          Setelah meninggal terlahir dalam kondisi bahagia di surga

Moralitas adalah perlindungan sejati seseorang. Setelah melakukan apa yang bajik dan baik, Ia tidak akan menyesal atau menyalahkan dirinya, dan orang bijaksana tidak menyalahkannya. Moralitas adalah dasar tertinggi untuk keamanan, fondasi untuk ketekunan dan sebuah berkah.

Buddha Dhamma adalah ajaran yg berisikan praktik dan bukan ajaran untuk diyakini, untuk itu sangat penting bagi kita untuk meraih manfaat Dhamma itu sendiri dengan mempraktikkan ajaran. Dhamma akan melindungi mereka yang mempraktikkannya. Dengan mempraktikkan Sila maka kita juga mencegah lenyapnya Dhamma sejati seperti yg diungkapkan oleh Sang Buddha dalam Samyutta Nikaya 16.13:

”Lima hal inilah Kassapa, yang menyebabkan lenyapnya Dhamma yang sejati. Apakah yang lima itu?

  1. Ketika para bhikkhu, bhikkhuni, pengikut awam pria dan wanita tidak memiliki rasa hormat pada Buddha
  2. Mereka tidak memiliki rasa hormat pada Dhamma
  3. Mereka tidak memiliki rasa hormat pada Sangha
  4. Mereka tidak memiliki rasa hormat pada pelatihan diri (Vinaya, Sila)
  5. Dan mereka tidak memiliki rasa hormat pada pencapaian konsentrasi”

Sila merupakan faktor utama dalam tahapan berlatih (sikkha) sebelum seseorang mengembangkan Samadhi (konsentrasi) dan Panna (kebijaksanaan). Untuk itu sangat penting melatih dan mengembangkan moralitas kita agar kita dapat terus mengembangkan kualitas batin kita menuju ke arah yang lebih baik hingga tercapainya Nibbana.

”Jika engkau menyayangi dirimu,

maka jgnlah membelenggu dirimu sendiri dgn kejahatan,

Karena kebahagiaan tidaklah mudah didapat bagi mereka yg melakukan perbuatan yang salah.

Ketika ditangkap oleh akhir kehidupan, saat engkau meninggalkan alam kehidupan sebagai manusia, apa yg sebenarnya engkau miliki? 

Apa yang kau bawa di sepanjang perjalanan?

Apa yang mengikuti di belakangmu seperti bayangan yg tidak pernah meninggalkan bendanya.

Keduanya, baik kebajikan & kejahatan yg engkau lakukan disini:

Itulah milikmu yang sejati, yg akan kau bawa sepanjang perjalananmu;

Itulah yang mengikuti di belakangmu seperti bayangan yg tidak pernah meninggalkan bendanya.

Karena itu lakukanlah apa yang terpuji, sebagai sebuah timbunan harta di kehidupan mendatang.

Perbuatan bajik adalah penyokong bagi semua makhluk ketika mereka muncul/lahir di dunia lainnya.

 Samyutta Nikaya 3.4 - Piya Sutta

Selamat mempraktikkan Atthasila di hari Uposatha.

Patria... One Spirit One Dhamma.

{fcomment}

Buku SMB

coversmb

Dapatkan ebook untuk Sekolah Minggu Buddhis. Ukuran file 51 Mb.