|
WAWANCARA
EKONOMI BERKECUKUPAN DAN AJARAN SANG BUDDHA
Wawancara dengan Y.M Phra Dr. Anil Sakya, Asisten Sekretaris dari Sangharaja Thailand dan Deputi Dekan, Fakultas Ilmu Social Universitas Buddhis Mahamakut
Q: Filosofi kecukupan ekonomi Yang Mulia Raja memiliki akar di dalam ajaran Jalan Tengah Sang Buddha, atau dapat dikatakan juga sebuah praktik yang tidak ekstrim. Bagaimana anda menjelaskan hal ini pada orang awam atau pada seorang non-Buddhis untuk dapat memahami gagasan ini?
A: Secara spiritual, Buddhisme adalah agama ‘Jalan Tengah’ inilah yang menjadi motif penggeraknya. Berdasarkan Kitab Suci, Jalan Tengah inilah yang berada diantara dua pandangan salah: kesenangan dan penyiksaan diri. Bagaimanapun, Jalan Tengah bukanlah sebuah ideologi filosofis belaka namun juga tercermin di dalam semua aspek kehidupan manusia, contohnya sosial, politik, ekonomi, psikologi, dsb. Pragmatisme dari Jalan Tengah di dalam praktik sehari-hari kita secara sederhana berarti ‘alasan moral disiplin diri’. Atau untuk memiliki perhatian murni dan kesadaran terhadap tubuh yang juga bukan berarti mengabaikannya atau mencoba memaksa untuk menguasai sepenuhnya. Secara sederhana, hal ini bukanlah untuk memaksa ataupun menyenangkan pikiran seseorang. Karena itu, Jalan Tengah dapat diterapkan di dalam segala keadaan kehidupan.
Berkaitan dengan ekonomi, adalah jelas bahwa dunia ekonomi sangat terpolarisasi pada sebuah ekstrim tertentu. Konsekuensinya, kita menderita dari sebuah ekonomi yang tidak memperhatikan ‘alasan moral disiplin diri’. Dalam istilah awam, kunci dari ekonomi adalah hasrat/keinginan manusia. Dari sudut pandang Buddhis terdapat dua jenis keinginan manusia: keinginan yang tak terbatas (contoh: bertujuan untuk kesenangan sensual) dan keinginan dengan disiplin (contoh: bertujuan untuk kehidupan yang berkualitas).
Ekonomi kapitalis yang melahap dunia ekonomi saat ini tunduk pada ‘institusi keinginan yang tak terbatas’. Ini adalah sejenis ekstrim yang mengarah pada persaingan, pencurian, eksploitasi, pertengkaran manusia, penderitaan, kekerasan sosial, dan menghancurkan kedamaian dan kemakmuran. Konsekuensinya adalah sebuah ektrimitas (selalu dalam sebuah arah yang buruk). Tidak memiliki Nilai yang tetap di dalam dan menuju ke Jalan Tengah. Karena itulah, Yang Mulia Raja mengusulkan kecukupan ekonomi yang berdasarkan Jalan Tengah dari Buddhisme. Ini adalah sebuah ekonomi yang berdasarkan pada keinginan dengan disiplin. Sebuah ekonomi yang berdasarkan pada kasih sayang bagi pihak lain dan lingkungan. Ekonomi yang berdasarkan pada kelangsungan umat manusia dan bumi. Ini adalah ekonomi yang memungkinkan anda untuk menikmati hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan dengan tidak berlebihan, bukan dengan mendorong untuk memaksa pikiran anda pada sebuah ekstrim ataupun untuk menyenangkan keinginan anda pada sebuah ektrim tertentu. Ini adalah keseimbangan hidup – sebuah keseimbangan ekonomi yang baik. Ekonomi yang ramah lingkungan dan menuju pada kehidupan yang lebih membahagiakan. Kunci dari konsep ini adalah kebijaksanaan untuk tidak berlebihan dalam konsumsi, ideologi, gaya hidup dan seterusnya – kehidupan sejati dari jalan Tengah.
Q: Bagaimana filosofi ini dipraktikkan pada non-Buddhis dan bisnis mereka?
A: Filosofi ini bukanlah filosofi berbasis agama. Oleh karena itu tidak berarti bahwa hal ini hanya berlaku pada pemeluk agama tertentu. Faktanya, Sang Buddha tidak pernah menyatakan bahwa Ajarannya adalah penemuan Beliau semata. Ajaran Buddha dasarnya adalah ’menunjukkan’ kebenaran yang ada di dunia dan sifat manusia. Manfaat dari filosofi ini dapat dialami oleh praktisi itu sendiri tanpa ’sebuah keyakinan’. Lagipula ’Buddha’ berarti ’untuk mengetahui’ bukan ’untuk meyakini’. Karena itu, ekonomi berkecukupan adalah sebuah alternatif ekonomi yang menghasilkan tidak hanya kebahagiaan mental individu namun juga sebuah keseimbangan pertumbuhan bisnis ekonomi yang baik. Terdapat sebuah contoh yang sangat jelas dari study ’Kebahagiaan Bruto Nasional’ (GNH) dari Kerajaan Bhutan yang tidak hanya menghasilkan masyarakat yang lebih bahagia namun juga menumbuhkan ’produk brotu domestik’ (GDP). Faktanya, inti dari GNH adalah versi lain dari ’kecukupan ekonomi’. Oleh karena itu, keseimbangan moralitas ekonomi yang baik tidak berkaitan pada penganut agama namun pada kebijaksanaan manusia untuk menghasilkan sebuah situasi menang-menang (win-win) antara umat manusia dan sumber daya global. Ini menunjukkan belas kasih dan memiliki tanggung jawab bagi generasi kita sendiri dan generasi yang akan datang. Inilah sebuah tipe ekonomi yang tidak mendorong seseorang untuk menjadi egois dan berpusat pada diri sendiri sehingga kita tidak perlu mencuri dan mengeksploitasi apa yang menjadi milik generasi masa depan kita.
Q: Jika “kekayaan yang terbesar adalah rasa puas” berdasarkan pada sebuah syair di dalam Dhammapada, bagaimana bisa seorang pengusaha, seorang manusia menahan dorongan alamiah untuk mendapatkan kekayaan fisik dan selebihnya?
A: ‘Rasa puas’ adalah salah satu filosofi Buddhis yang sulit untuk dimengerti dan selalu disalah pahami. Rasa puas adalah sebuah kepuasan terhadap apapun yang dimiliki seseorang. Adalah pengalaman neuro-psikologi akan rasa puas dan menjadi tenang dalam sebuah situasi. Dalam pengertian Buddhis, rasa puas adalah kebebasan dari kegelisahan, keinginan ataupun kebutuhan. Rasa puas adalah tujuan di balik semua sasaran karena ketika tercapai maka tidak ada yang perlu dicari lagi sampai hal itu hilang. Dengan kata lain, kepuasan berarti sebuah keseimbangan hidup atau sebuah kehidupan Jalan Tengah. Sang Buddha mengelompokkan tiga jenis kepuasan:
- Kepuasan terhadap apa yang didapat dan pantas didapatkan seseorang
- Kepuasan dengan kekuatan atau kapasitas dalam diri seseorang, dan
- Kepuasan dengan apa yang sesuai / pantas / cocok
Dari sudut pandang Buddhis, sangatlah jelas bahwa kepuasan bukan berarti menekan keinginan manusia untuk memperoleh kekayaan fisik, kebahagiaan mental dsb. Kepuasan adalah proses mengamankan mental sebagai akibat dari ektrimisme. Buddha tidak penah mengatakan pada kita untuk menjadi puas karena sebab tapi karena konsekuensi. Ini tampak sangat jelas dari saran Sang Buddha pada pembagian uang yang diperoleh seseorang: ’satu bagian untuk menunjang kehidupannya dan melaksanakan kewajiban terhadap orang lain, dua bagian adalah untuk memperluas usaha dan satu bagian lainnya disimpan sebagai cadangan’. Karena itu, Buddha tidak pernah meminta seorang pengusaha untuk menjadi puas dalam investasi namun Buddha mendorong investasi. Namun, biasanya, kita tidak dapat mengatur konsekuensi dari investasi kita jadi belajar untuk puas terhadap konsekuensi yang ada sehingga kita tidak akan terpengaruh oleh ektrim kebahagiaan ataupun penderitaan tertentu, namun dapat untuk bergembira dengan hasil yang diinginkan ataupun dapat menahan diri sendiri dalam menghadapi hasil yang sangat buruk. Untuk itulah, kepuasan adalah kebijaksanaan dan sumber kehidupan yang seimbang.
Q: Mengapa Thailand harus mengejar ‘kecukupan ekonomi’ di era globalisasi, mega-proyek, dan kebijakan pasar liberal?
A: Karena ‘kecukupan ekonomi’ adalah untuk berperhatian penuh pada akibat dari semua tindakan-tindakan yang dapat diduga dan yang tidak dapat diduga. ’Kecukupan ekonomi’ sama sekali bukan anti-globalisasi, anti mega-proyek dan anti kebijakan pasar liberal. Sebaliknya, kecukupan ekonomi mendorong kita untuk secara bijak merenungkan semua aspek globalisasi, mega proyek dan kebijakan pasar liberal daripada hanya sekedar mengarah pada satu dimensi konsekuensi. Kecukupan ekonomi menghasilkan keseimbangan fisik dan pengembangan mental yang baik. Lagipula, pada pokoknya manusia adalah penggabungan dari tubuh dan batin karena itu perkembangan yang ada harus didasarkan pada keseimbangan konsekuensi dari keduanya, kenyamanan fisik dan kebahagiaan mental. Sebuah penerapan yang tepat dari kecukupan ekonomi mengajarkan kita untuk bertanggung jawab pada proyek dan kebijakan baik itu global, nasional, organisasi dan individu. DC Consultants and Marketing Communications Limited adalah salah satu dari beberapa contoh dari pengusaha Thailand, yang menggunakan filosofi ini dengan tetap mencari pertumbuhan dan keuntungan
*Diambil dari: http://www.aseanaffairs.com/interview_ven_phra_dr_anil_sakya
Biografi: Phra Dr. Anil Sakya
Phra Dr. Anil Sakya dilahirkan di Nepal. Pada usia 14 tahun, beliau menjadi samanera dan ditasbihkan menjadi Bhikkhu di Thailan di tahun 1980. Ia menerima gelar B.A. di bidang Sosiology (Honors) dari Mahamakut Buddhist University; M.A. di bidang Anthropology, Kirtipur Campus, Tribhuvan University, Kathmandu, Nepal; MPhil di bidang Social Anthropology, Christ's College, Cambridge University, UK; dan Ph.D. dari Brunel University, Uxbridge, Middlesex, United Kingdom.
Beliau menerima beberapa penghargaan dan beasiswa dari Yang Mulia Raja Thailand. Terpisah dari kegiatan mengajar beliau di College of Religious Studies, Mahidol University dan di Mahamakut Buddhist University di Thailand, beliau juga berperan sebagai asisten sekretaris bagi Yang Mulia Sangharaja Thailand dan juga terkadang mengajar di institusi akademis lainnya di Amerika dan Australia.
Minat penelitian beliau termasuk Etika Buddhis; Psikologi Buddhis; Buddhisme di Barat; dan Anthropologi Buddhisme.
Beliau telah menerbitkan banyak artikel secara luas dalam berbagai aspek Buddhisme di berbagai macam jurnal dan koran dalam bahasa Inggris, Thailand, dan Nepal.
|