|
Apa yang dapat kita lakukan sebagai pemuda-pemudi Buddhis? |
|
|
|
|
Written by Ervan Setiawan
|
|
Selasa, 29 Desember 2009 12:03 |
 Setiap manusia mengalami kelahiran, tumbuh dan berkembang, ketuaan, dan berakhir dengan kematian. Ketika kita masih dalam masa balita, masa kanak-kanak, hingga masa remaja, kita mulai mendapat pelajaran tentang kehidupan entah berupa nasihat, wejangan, pendidikan, hingga proses belajar secara alamiah. Bagi seorang Buddhis, kita mendapatkan Dhamma sebagai dasar Ajaran Sang Buddha. Dhamma yang diajarkan oleh orang tua, romo/ramani, guru, teman, maupun bhikkhu. Dhamma merupakan sebuah pondasi atau akar dalam mempelajari Ajaran Sang Buddha. Dhamma yang kita dapatkan seringkali berupa nasihat atau wejangan dimana kita memerlukan realisasi nyata dalam penerapannya di kehidupan kita. Setelah mendapatkan Dhamma, kita seringkali lupa atau kesulitan untuk menentukan waktu yang tepat merealisasikannya secara benar.
Masa kanak-kanak adalah masa belajar Dhamma sebagai pondasi awal atau akar. Masa tumbuh dan berkembang sebagai remaja (masa muda) adalah masa dimana kita telah mempunyai Dhamma sebagai akar yang kokoh serta fisik yang kuat dalam kehidupan kita. Sedangkan di masa tua kita mulai mengurangi aktifitas fisik sebagai konsekuensi menurunnya kemampuan fisik. Dari masa-masa itu, kita dapat menentukan waktu yang terbaik untuk merealisasikan Buddha Dhamma. Hal ini pun masih tergantung pada hukum kamma setiap individu. Sebagian individu tidak dapat mencapai masa tua sebagai akibat dari hukum kamma yang telah dilakukan sebelumnya.
Masa muda adalah masa terbaik untuk merealisasikan Dhamma. Ini terbukti dengan apa yang telah dilakukan Sang Buddha Gotama sendiri. Beliau memulai usaha mencari pencerahan tidak di masa kanak-kanak dan tidak pula di masa tua, tetapi di masa mudanya. Beliau melakukan hal ini pada usia relatif muda yaitu umur 29 tahun. Pada masa muda, kita masih memiliki fisik yang kuat dan pikiran yang tajam. Dengan kemampuan itu disertai juga dengan tekad yang membaja, Sang Buddha Gotama mampu menghadapi segala rintangan fisik maupun batin sehingga Beliau mampu mencapai Pencerahan Sempurna pada usia 35 tahun. Beliau tidak berhenti begitu saja setelah mencapai Pencerahan Sempurna, tetapi dengan sabar dan tekun setiap hari menyebarkan Dhamma bagi seluruh makhluk hidup. Sang Buddha Gotama hanya berhenti memberikan Dhamma ketika Beliau mendekati Parinibbana.
Dengan kenyataan ini, apakah kita akan menunggu atau menunda untuk merealisasikan Dhamma pada usia muda? Apakah kita akan menunggu hingga fisik dan pikiran kita menurun kemampuannya untuk merealisasikan Dhamma? Apakah kita tidak menyesal apabila kematian menghampiri kita sebelum kita sempat merealisasikan Dhamma dalam kehidupan ini? Hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya, bukan orang di sekeliling kita, bukan pula orang-orang suci di sekeliling kita.
(Intisari dari Dhammatalk Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera dalam acara HUT XIV Patria)
|
|
Last Updated on Selasa, 29 Desember 2009 12:30 |