[Surabaya] Berikut adalah liputan perjalanan kunjungan kerja dari DPP Pusat Bidang Sosial Budaya yaitu anak asuh yang dilakukan di Jawa Tengah pada 14-15 Agustus 2010. Dalam perjalanan ini dilakukan atas kerjasama antara DPP Pusat, DPC Semarang dan Vihara Tanah Putih Semarang. Perjalanan ke Jawa Tengah ini pada awalnya telah direncanakan pada bulan Juli 2010 dimana saya dan Cahya telah merencanakan untuk berkunjung dalam rangka menjemput bola dari program anak asuh Patria, namun akhirnya rencana ini baru bisa terwujud tepatnya pada 11/08/10 hingga kami mengatur ulang jadwal kosong kami dari kesibukan pekerjaan 'duniawi' kami.
11/08/10, setelah berhasil mengkonfirmasi ke Ketua Bidang Sosial Budaya bahwa, dan positif bisa ikut dalam perjalanan ke Jawa tengah yang merupakan ‘utang’ saya kepada Cahya, sejak hari itu saya berfikir, apa yang bisa saya lakukan selama perjalanan ini, akhirnya setelah berkonsultasi dengan Ketua Umum, kami memutuskan untuk membuat dokumentasi dalam bentuk foto dan video.  12/08/10, Hari keberangkatan sudah dekat, namun setelah saya melihat kembali isi materi presentasi anak asuh yang pernah ditayangkan pada saat Munas di Bali Desember 2009. Hal ini membuat tantangan tersendiri untuk membuat sesuatu yang berbeda dan lebih baik, akhirnya saya putuskan untuk membawa 'alat perang' ke Jawa Tengah.
13/08/10, Sejak pagi itu pikiran saya mulai kalut karena cuma ada satu pertanyaan didalam kepala ini yaitu 'apa sih yang ingin saya cari disana?", akhir nya muncul ide untuk membuat sebuah konsep baru untuk anak asuh, sebuah konsep yang memiliki 'brand', kemudian ide ini kembali dikonsultasikan kepada Ketua Umum, dan beliau memberikan lampu hijau. Sebuah 'brand' harus memiliki simbol dan logo, kemudian dalam waktu yang terbatas ini akhirnya kami telah membuat simbol dan logo tepat pada siang hari. Brand sudah ada, simbol ada, logo ada tapi konsep masih kosong, maka inilah yang membuat kami kembali berfikir keras apa yang harus dilakukan setekah itu, Jam sudah menunjukan pukul 13, dimana sisa waktu 2 jam untuk mencari konsep tersebut, Tepat pukul 15 saya berangkat menuju Bandara, dengan membawa 'alat tempur' yang banyak dan berat saya memasuki check in, ternyata pada tiket tertera bahwa berat bagasi hanya 13 kg sedangkan alat perang tersebut 16 kg! yah...terpaksa membayar biaya kelebihan bagasi, dan itu beruntung saya hanya memasukan 3 tas dari 6 tas yang saya bawa, coba kalau semua tas masuk bagasi maka total bagasi saya bisa mencapai 30 kg. Soal kelebihan berat bagasi ini membuat saya binggung karena biasanya jatah bagasi adalah 20 kg tapi mengapa hari ini cuma dibatasi 13 kg?. Setelah menunggu (baca: pesawat delay/telat) akhirnya kami dipanggil boarding dan saat kami berada di depan pintu keluar landasan dimana seluruh penumpang berjalan kaki menuju pesawat ternyata pesawat yang menuju ke Semarang bukan pesawat Jet melainkan pesawat baling-baling ATR72-500, OMG!, pantas saja mereka membatasi berat bagasinya. Tidak hanya saya yang terkejut dengan jenis pesawat ini tapi semua penumpang terhenyut, ada penumpang yang bimbang ada juga yang terlihat ragu-ragu sambil berjalan bolak balik melihat kondisi fisik pesawat, tampak sekali raut wajah yang terlihat was-was itu dari balik jendela tempat duduk saya. Yah..memang ini bukan pengalaman yang pertama bagi saya naik pesawat baling-baling ini karena 12 tahun yang lalu saya pernah naik pesawat yang lebih kecil dari Banjarmasin ke Sampit yang isi penumpangnya hanya 10 kursi. Perjalanan dengan pesawat baling-baling ini jelas memakan waktu 2x lebih lama dari pesawat jet namun segi positifnya adalah pesawat tidak terlalu bising dengan suara mesin. Jam 19 saya mendarat di bandara A.Yani Semarang dan ternyata Cahya telah duluan tiba di Semarang, akhirnya dengan dijemput oleh Sdri. Subhadevi (Jing-jing) dengan mobil dinas Vihara Tanah Putih kami bersama-sama berangkat menuju Vihara Tanah Putih ( S7 00.665 E110 25.912) guna menjemput Bhikkhu Cattamano Thera. Hingga jam 21.30 Wib rombongan kecil yang terdiri dari Bhikkhu Cattamano Thera, Cahya, Jing-jing & Lisa (DPD Semarang), Gepeng SH (Supir Harian) dan saya berangkat menuju ke Kopeng tepatnya di Vihara Dharma Phala ( S7 22.843 E110 25.647). Tepat disisi kiri vihara Dhamma Phala terdapat Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra yang berjarak sekitar 15 meter. Sekolah ini tempat mencetak guru Agama Buddha ( S7 22.834 E110 25.635 )
14/08/10, Seperti yang telah disepakati bersama pada malamnya bahwa kami akan mulai bekerja pada jam 5:00 pagi!, karena kami harus berada dirumah salah seorang anak asuh untuk melakukan shooting video plus wawancara. Suasana udara yang sangat dingin memaksa kami harus mandi pagi sejak jam 4:30 pagi, suhu udara dingin yang mencapai 21 membuat badan menggili dikarenakan vihara ini berada diketinggian 1.180 meter,( S7 22.843 E110 25.647 ). Tidak lupa saya sempatkan juga melakukan uji kadar kwalitas air gunung, dan ternyata berdasarkan angka yang terukur oleh alat TDS tercatat 55 ppm, wow ….ternyata air di daerah kopeng ini adalah sumber air murni, angka ini sangat berbeda dengan air yang berasal dari botol air kemasan siap minum yang tercatat 119 ppm!. Andai sumber air ini dikelola dengan sistem reserve osmosis maka kebutuhan air bersih siap minum bisa dilakukan secara mandiri dalam artian bahwa air gunung yang telah diolah dapat langsung di konsumsi tanpa harus direbus.
Jam 5:15 pagi kami telah tiba di rumah Supriati, usia 12 tahun seorang siswa Kelas 8 SMPN 1 yang telah mengikuti Program Anak Asuh Patria (PA2P) dan langsung melakukan wawancara dengan Supriati hingga pengambilan video dan foto, hingga berakhir saat Supriati berangkat kesekolah dengan bus pada pukul 06:16.
 |
|
salah satu ruangan dari rumah Supriati
|
Selanjutnya dengan didampingi Sdr. Budi (DPC Kopeng) kami mendapat info bahwa akan ada 11 anak yang berangkat bersama-sama ke sekolah maka kami akhirnya menunggu kedatangan rombongan kecil ini untuk pengambilan video dan foto, adegan ini akhirnya selesai pada jam 07:00 selanjutnya kami pergi menuju salah satu orang tua yang tinggal di desa Wates ( S7 22.893 E110 25.515 ) untuk melakukan wawancara. Menurut penuturan bapak itu menceritakan bahwa dengan penghasilan dia sebagai buruh tani dan kuli bangunan membuat penghasilan dia tidak cukup untuk membiayai pendidikan anaknya, dan bapak itu sangat bersyukur dengan adanya PA2P hingga bisa membuat anaknya kembali duduk dibangku sekolah.
 |
|
Pengambilan video
|
Kegiatan wawancara ini selesai pada 07:45 selanjutnya kami kembali ke vihara Dhamma Phala untuk sarapan pagi, dan pada setelah itu kami berangkat menuju SMPN 3 Getasan yang berjarak 841 meter dari vihara Dhamma Phala, walau jaraknya dekat namun jalan yang berbelok-belok mengitari gunung terasa jauh dimato. Tujuan kami ke sekolah ini adalah ingin melihat bagaimana aktivitas siswa anak asuh serta bagaimana tanggapan dari Wali Kelas mereka. Setelah meminta izin dari pihak sekolah maka kami diantar masuk ke kelas guna pengambilan video dan foto. Hal yang menarik adalah pada sekolah ini terdapat sebuah ruang berukuran 2x2 meter yang disebut Ruang Agama Buddha, ruang kecil ini terdapat 8 bangku, poster Sang Buddha, altar kecil beserta Buddha rupang dan 15 buku Parrita Biru.
 |
|
Ruang Agama Buddha
|
Tidak terasa waktu berlalu hingga pukul 10:00 kami berpamitan dengan Wakil Kepala Sekolah SMPN 3, Bpk. Suwitno Spd. Matahari sudah berada diatas kepala, menandakan sudah saatnya kami melanjutkan ke acara makan siang. Makan siang dilakukan ke Warung NgGoenoeng ( S7 23.326 E110 25.485 ) yang berada di ketinggian 1283 meter dari permukaan laut serta berjarak 2 km dari SMPN 3.
 |
|
Suasana belajar siswa
|
Sepulang dari makan siang kami menyempatkan diri untuk berhenti sebentar guna mengambil foto di Vihara Bhakti Suci ( S7 23.129 E110 25.540), Kami harus segera kembali ke vihara Dhamma Phala oleh karena telah ditunggu oleh 11 anak siswa asuh untuk dilakukan wawancara dan pemotretan profile mereka.
 |
|
Anak Asuh desa Kopeng bersama Cahya
|
Hingga pada jam 12:39 semua kegiatan telah selesai dan rombongan kecil ini langsung berangkat menuju desa Gemawang. Perjalanan yang berjarak 17 km ini terasa sangat lambat dikerenakan alur jalan yang berkelok, naik turun dari jalan aspal hingga jalan bebatuan mobil berjalan perlahan menaiki gunung yang hanya bisa dilewati satu mobil dengan disisi kanan dan kiri bibir jurang gunung, hingga akhirnya tiba pukul 14:11 di sebuah rumah penduduk.
 |
|
Kebaktian di desa Getasan kec.Ampel
|
Desa ini terletak di ketinggian 1285 meter ( S7 25.160 E110 27.901 ), disini kami telah ditunggu penduduk desa yang sangat antusias ingin mendengarkan kotbah Dhamma dari bhikkhu Cattamano, memang adalah wajar dikarenakan kondisi alam yang jauh untuk dicapai. Kegiatan dimulai dengan pembacaan Paritta kemudian Dhammadesana, Bhikkhu Cattamano memperkenalkan apa itu Patria beserta personel dari Semarang, Jakarta dan Surabaya ini. Setelah usai mengadakan kebaktian, Cahya menjelaskan apa itu PA2P dan mulailah penduduk ramai mendaftar, tercatat 26 anak ikut mendaftar menjadi P2AP.
 |
|
Siswa desa Getasan mendaftarkan dirinya
|
Penduduk desa getasan yang penghasilan utama dari buruh tani ini sangat terbantu dengan adanya PA2P karena bisa meringankan beban hidup mereka.
Tepat pukul 17:08 rombongan kami pergi meninggalkan desa Gemawang guna menuju kota Temanggung dengan jarak tempuh 60,9 km. Perjalanan yang ditempuh dengan waktu 2:38 jam melewati kota Boyolali, Salatiga, Ambarawa, Bawen, Somowono, Kaloran hingga akhirnya tiba di Vihara Dharma Surya Kaloran-Temanggung ( S7 16.131 E110 15.326) pada pukul 19:46, vihara ini terletak di ketinggian 749 meter, hawa hangat mulai terasa hal ini sangat berbeda saat kami berada di Kopeng. Sesampai kami meninap di Vihara Dharma Surya yang terletak tepat diseberang jalan vihara tersebut.
15/08/10, Setelah usai sarapan pagi pada 08:13 kami berangkat menuju Vihara Dhamma Pana yang berjarak 1 km, disana kami mengantar Bhikkhu Cattamano yang menjadi juri dalam acara Dhammadana, yaitu sebuah perlombaan baca paritta yang diselenggarakan oleh Buddhist Shop Tanah Putih Semarang.
 |
|
Perlombaan baca Paritta
|
Tampak juga 6 anggota DPC Semarang & Temanggung yang turut serta membantu acara tersebut. Dengan banyaknya jumlah peserta Dhammadana ini merupakan kesempatan bagi kami dalam menjaring PA2P lebih banyak lagi, kemudian berdasarkan penuturan Sdr. Budi DPC Temanggung, diketahui bahwa masih terdapat banyak anak Buddhis yang tidak bersekolah karena orang tuanya tidak mampu membiayai. Maka pada pukul 11:33 Cahya, Lisa, Budi, dan Saya kembali berangkat menuju desa yang berada dibelakang gunung Vihara Dharma Surya yang berjarak 8.5 km. Sambil dipandu oleh Sdr. Budi dan Istrinya kami menuju ke rumah Soleka ( S7 17.169 E110 16.517 ). Dia adalah seorang pelajar putri yang tidak bersekolah dan hanya tinggal di rumah membantu orang tuanya karena ketidakmampuan orang tuanya untuk membiayai sekolahnya. Soleka adalah seorang anak dari buruh tani, dimana keseharian orang tuanya adalah berladang dan mencari rumput untuk ternak yang dititipkan kepada mereka. Dengan kondisi rumah yang sederhana serta lantai beralaskan tanah bisa kami rasakan bagaimana sulitnya kehidupan mereka ini.
 |
|
Rumah peserta anak asuh
|
Kejadian ini juga terjadi dengan teman-teman Soleka bahkan ada seorang siswi yang sudah setahun tidak bisa bersekolah! Dengan kehadiran tim rombongan kecil ini seolah memberikan harapan untuk mereka guna melanjutkan sekolah.
 |
|
Teman Soleka ikut mendaftar
|
Pukul 15:14 kami berpamitan dari Vihara Dharma Surya guna menuju ke Vihara Buddhagaya Watugong ( S7 05.135 E110 24.547 ), 17:17 tiba di Vihara Buddhagaya Watugong dan kami langsung mengikuti perayaan Asadha hingga pukul 19:49 selanjutnya kami berangkat menuju Vihara Tanah Putih Semarang untuk beristirahat karena besok paginya Cahya harus kembali ke Jakarta dan Saya kembali ke Surabaya.
Ayo segera bantu Adik-adik kita untuk mewujudkan cita-cita mereka, segera jadilah donatur dalam Program Anak Asuh Patria.
Catatan :
Total Jarak Perjalanan : 230 km
Pengukuran lokasi & Jarak menggunakan GPS
Pengukuran air menggunakan TDS
|